Pedang Hijau dari Laut

Pandanganku berputar. Terlalu banyak minuman. Pesta sudah demikian kacau. Di sekelilingku orang-orang menari, melonjak-lonjak seperti lupa diri. Ini memang pesta besar, dan aku terlampau mabuk untuk mengenali mereka satu per satu. Udara ditabrak dentuman musik. DJ di panggung melompat-lompat sembari mengangkat tangan. Gerak cahaya lampu seperti hantu yang berkelebat.

Dengan sempoyongan aku berjalan menjauhi kerumunan. Lambungku penuh cairan dan serasa bergolak hendak naik ke kerongkongan. Orangorang yang bergoyang sekali-kali menabrak tubuhku, atau sebenarnya aku yang menabrak mereka, aku tak tahu persis. Aku hanya ingin menjauh, mendekati laut dan muntah di sana.

Agak jauh dari kerumunan, aku lihat dua lelaki berkelahi, dan seorang perempuan muda melerai mereka. Ada teriakan yang samar, tenggelam oleh riuh musik dan suara pesta. Samar aku lihat seorang di antara dua lelaki itu rubuh ke pasir sembari memegang perut. Darah terlihat ketika cahaya lampu lewat. Perempuan muda berteriak histeris. Aku ingin mendekat, tetapi desakan isi perutku tak bisa lagi kutahan. Aku berlari menuju laut. Entah kenapa masih sempat kugulung bagian bawah celanaku, seperti takut basah. Terpikir juga untuk melepas sepatu, tetapi itu butuh waktu. Kuurungkan niat itu ketika air laut sampai kepadaku. Sepatuku basah, tertanam di pasir ketika air bergerak balik.

Aku muntah sepuas hati. Suara yang keluar dari tenggorokanku terdengar mengerikan. Seperti suara ternak dijagal. Setelah puas, aku diam sesaat memandang keluasan laut, bulan bulat besar menempel di langit, memancarkan cahaya kebiru-biruan.

Di kejauhan, aku lihat sebuah benda bergerak mendekat. Benda itu jelas muncul dari dalam air. Sebuah kereta. Kereta yang diseret seekor kuda. Aku pikir, alkohol telah membuat mataku jadi tolol. Namun ketika kereta itu berhenti di hadapanku dan kuda mengangkat kedua kaki, aku tak bisa lagi mengabaikan: semua ini kenyataan.

Seorang lelaki tegap turun dari kereta, menjejak air dan pasir. Ia mengenakan rompi warna hijau dengan tepi-tepi keemasan, celana panjang hijau dengan lingkaran emas di mata kaki. Tanpa berkata apa-apa ia segera menyambar tanganku, lalu sekali sentak menaikkan tubuhku ke pundaknya. Aku berusaha berontak, tetapi tenaganya luar biasa kuat. Ia naik ke atas kereta dan menjatuhkan tubuhku. Dapat kulihat, ketika kereta berbalik ke arah laut, sebagian orang yang berpesta berhamburan merubung lelaki yang rubuh tadi. Aku berteriak memanggil-manggil mereka. Tak ada seorang pun melihatku, atau melihat ke arah laut; sebuah kereta kuda hendak membawaku.

Arsip Cerpen di Indonesia