Pria dan Temannya di Dalam Rumah

Pria setengah baya tersebut segera menuju kamar mandi. Lama sudah ia mengumpulkan nyawanya yang hilang paska bangun dari tidurnya. Setiap manusia yang bangun tidur pasti melakukan proses loading dari bangun tidur ini. Tak jarang proses itu memakan waktu dengan duduk selama beberapa menit. Ketika ia yakin nyawa, raga dan seluruh rohaninya terkumpul, pria setengah baya barulah ke kamar mandi. Ia berjalan menyusuri kamarnya yang terbuka tanpa gorden pintu yang terpa sang.

Ketika hendak menuju kamar mandi, pikirannya teralihkan dengan suara kucing kecil yang tadi berhasil membangunkannya. Suara merdu itu menang telak mengalahkan semesta yang merayu-rayu pria setengah baya agar tetap terlelap dalam kasur dan selimutnya.Setelah pria itu bangun kucing mungil tadi masih saja berkoar-koar. Tampaknya ia belum puas hanya berhasil membangunkan satu orang manusia. Mungkin ia menargetkan membangunkan semua manusia yang ada di kelurahan itu.

Pria itu coba berpikir sejenak apa yang diinginkan kucing kecilnya. Kucing kecil itu mengeluskan bulu nan lembutnya itu kepada si pria setengah bayadiiringi  suara merdu yang meng gemaskan. Semula pria setengah baya berpikir bahwa kucing mungilnya sangat lapar dan menginginkan makanan. Maka ia hendak mengambil seekor ikan kecil untuk diberikan kepadanya. Mendengar suara pintu terbuka lantas saja kucing mungil tadi mengejar mengikuti si pria setengah baya. Namun, ketika seekor ikan tadi disuguhkan kepadanya ia hanya menciumi dan masih tetap mengeong tak melambat. Bahkan kemana pun pria setengah baya melangkah selalu diiringinya seolah tak mau tertinggal selangkah pun.

Pria setengah baya pun makin berpikir apa yang diinginkan si kucing. Namun pikiran seorang ma nusia yang baru saja mengumpulkan nyawanya, belum makan, belum mandi, bahkan belum gosok gigi pun tak secepat pikiran manusia yang sedang da lam mode on menjalani hari. Lantas ia coba menyingkap gorden pintu depan agar cahaya matahari  yang samar-samar tertutup awan bisa bergotong royong masuk melalui satu-satunya jendela di ruangan itu.  Di belakang pria itu masih berdiri kucing kecil yang sedari tadi masih konsisten untuk bersenandung dengan suaranya hendak memintak sesuatu.Lalu keongan itu mendadak mengencang temponya seratus delapan puluh derajat saat si pria setengah baya menarik kunci pintu dan membukanya.Si kucing langsung mengambil langkah seribu dengan diiringi keongan yang turun beberapa oktaf hingga suara itu benar-benar lenyap dari kuping si pria setengah baya.

***

Arsip Cerpen di Indonesia