Pria dan Temannya di Dalam Rumah

Pria setengah baya telah selesai mandi, bahkan ia sudah hendak makan pagi. Ada sedikit sambal untuk menemani nasinya. Sepotong ikan bakar ada di lemari makan. Sepotong ikan kecil sudah ia berikan di meja bawah untuk si kucing kecil tadi. Kucing itu belum memakannya sedikitpun. Barangkali nanti mungkin akan dimakannya. Pantas saja kucing kecilnya tak nafsu makan, ternyata ia kepingin buang hajat. Dulu saat umur si kucing kecil baru beberapa minggu si pria setengah baya selalu mengedukasi kucing kecilnya bahwa jika hendak buang hajat tidak boleh di dalam rumah. Setiap malam kucing kecil itu selalu dibiarkannya tidur di teras rumah bersama si induk tentu lengkap dengan tempat tidur minimalis, sebuah kardus yang dialasi kain bersih yang membuat seekor kucing cukup nyenyak tidurnya.

Hal itu ia lakukan sampai ia yakin bahwa si kucing sudah terbiasa  membuang hajat di luar rumah, barulah pria setengah baya tadi membiarkan si kucing untuk tidur di dalam rumah. Hingga edukasi dari pria itu memunculkan etika dari kucing tersebut tanpa ia sadari. Ketika ia ingin buang hajat pasti selalu bersenandung seperti tadi. Sayangnya si pria untuk kali ini gagal paham dengan pelajaran yang ia berikan pada muridnya.

Kucing kecil tadi bukan hanya sekedar kucing.Bu kan juga sekedar binatang atau peliharaan bagi sebagian besar manusia di muka bumi ini. Ia telah menganggap si kucing tadi tidak lebih rendah darinya. Maksudnya, ia seringkali memperlakukan kucing tadi seperti bagaimana memperlakukan manusia. Setali tiga uang, kucing kecil mungil itu juga sangat setia kepada tuannya.Ia hampir tidak pernah mela kukan tingkah yang membuat pria setengah baya sampai naik pitam. Mereka berdua sangat serasi untuk ukuran dua makhluk yang berbeda.

Seringkali pria setengah baya menyampaikan keluh kesahnya kepada si kucing mungil dengan mengelus lembut bulunya. Si kucing akan dengan manja merespon tindakan tuannya. Tindakan lucu itu menstimulun kegalauan si pria di tengah masalah kehidupan yang dialami.

Si pria setengah baya memutuskan untuk menutup diri dari dunia luar dan hidup sendiri  karena telah merasa dikhianati sebagai makluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Kehidupan pria ini pada awalnya tidaklah terlalu memprihatinkan. Punya keluarga yang cukup harmonis degan dua anak dan istri yang pengertian dengannya.Sang anak juga anak yang berbakti kepada kedua orangtua mereka. Kehidupan mereka juga tidak kekurangan, namun juga bukan orang berada. Namun kebahagian dan kesahajaan dari keluarga ini tak dapat disembunyikan bagi yang melihat.

Hingga pada suatu hari, sebuah titik awal yang menuju perubahan dalam catatan perjalanan hidup si pria setengah baya ini dimulai.

Arsip Cerpen di Indonesia