Sudah di mana aku sekarang? Aku terlalu sibuk berdoa, hingga tak memperhatikan jalan. Sejak tadi bercabang-cabang dan tak menghapal arah mana yang telah kumasuki. Jalan buntu menghentikan langkahku. Di hadapanku membentang semak-semak begitu padat dan tinggi. Batang-batang pohon sebesar dua kali tubuhku terlihat begitu mengintimidasi. Tampaknya di sini tak ada rute yang pernah dilalui manusia.
Kutelusuri semak-semak itu sambil berharap tak ada ular yang tiba-tiba keluar entah dari mana dan mematukku. Kutemukan sebuah sungai yang lebar, berarus deras dan tampak liar. Kuikuti jalan setapak di sepanjang tepiannya. Sial! Jalan ini ternyata berakhir di sebuah tebing.
Untuk kali kesekian aku harus membuat keputusan yang melelahkan. Bila aku berbalik dan kembali pada rute sebelumnya, aku tak yakin di sana tak ada jalan ke luar. Satu-satunya pilihan adalah meniti tebing ini untuk melihat apa yang ada di depan sana. Keputusan yang sesungguhnya tidak menjanjikan apa yang kuharapkan, namun lebih baik dicoba daripada tidak melakukan apa-apa.
Setiap pijakan adalah pertaruhan hidup dan mati. Lebar pijakan hanyalah seluas telapak kaki. Ah…! Aku kaget setengah mati! Kaki kananku nyaris terpeleset oleh permukaan batu yang licin. Untung tanganku masih cukup kuat berpegangan pada akar-akar pohon besar yang banyak bertimbunan. Darahku berdesir dingin demi melihat sungai berjeram deras di bawah sana. Gemuruh riaknya meredam semua suara pekik-pekik manusia, kerik jangkrik, hingga derak cabang-cabang pohon yang diayun angin.
Kutenangkan nafas yang tersengal-sengal sembari mengumpulkan tenaga. Aku harus membuat pijakan yang kuat. Sebab, kalau sampai terjatuh, aku akan ditelan arus deras itu. Hanya bisa kuikuti riaknya tanpa bisa melawan sebab tubuhku sudah begitu lelah. Aku akan terombang-ambing, sesekali menghantam bebatuan besar di sepanjang sungai. Hanyut, hingga jauh dengan kondisi yang hanya Tuhan yang tahu.
Sial! Kenapa aku malah membayangkan hal yang tidak-tidak? Kugeleng kepala kuat-kuat, menyangkal bayangan itu. Butuh beberapa detik untuk menjernihkan pikiran dan lalu kulanjutkan langkahku.
Setelah melewati tebing dengan dada berdebar keras hingga terasa menyakitkan, aku tiba di jalan setapak yang tampaknya pernah dilewati manusia. Permukaannya keras tanpa lumpur dan sedikit lebih bersih dari semak-semak. Syukurlah. Sepertinya jalan keluar sudah tak jauh lagi. Semangatku bangkit kembali, membuatku mampu menyeret kaki yang bergetar sebab adrenalin ketika melewati tebing tadi belum lagi reda.