Sebuah siulan tiba-tiba meniup daun telingaku. Kaget, spontan kutepis siulan itu dengan tangan serupa mengusir nyamuk berdenging. Siulan itu malah menjadi-jadi. Sontak kutolehkan kepala.
Sesosok makhluk hitam yang terlihat ganjil muncul dari balik sebuah dahan besar, dua langkah di belakangku. Bentuknya jauh dari fisik manusia, tapi dia juga tak menyerupai binatang apa pun. Wujudnya benar-benar ganjil. Ia hitam dengan dua mata menyala. Aura mengerikan menguar dari tubuhnya, membuat gelap di sekitarnya semakin pekat di sisa keremangan petang.
“Siapa kau?” teriakku. Alih-alih menjawab, dia melangkah mendatangiku. Dia menjejak tanah, namun langkahnya tak terdengar.
“Berhenti di sana! Jangan mengikutiku!” Perintahku tegas. Seketika aku sadar, aku tidak sedang berhadapan dengan para bawahanku di kantor. Aku berhadapan dengan sebentuk makhluk asing yang kian lekat di belakangku dan tampaknya tak akan menuruti kata-kataku. Langkahku kian gegas. Itu tak juga memperlebar jarak di antara kami. Tangannya terulur, menggapai-gapai.
Tepat ketika dia mencengkeram kerah bajuku dan menariknya kuat, hingga aku tercekik, tiba-tiba aku melihat secercah cahaya. Terang yang perlahan semakin benderang. Bersama satu hentakan nafas, mataku terbuka lebar. Kusadari aku telah terbangun dari mimpi yang buruk, teramat buruk.
Kudapati berlapis-lapis manusia mengerubungi tubuhku yang tengah berbaring kaku. Langit-langit putih dan bau khas yang akrab mengembalikanku pada dunia nyata. Baru kemudian realitas menyusup masuk ke alam sadarku. Telah enam bulan aku menghuni rumah sakit ini karena penyakit komplikasi.
Seorang lelaki dengan jubah megah menopangkan tangannya di kepalaku. Seorang pendeta yang kukenal, namun selalu kuhindari. Matanya terpejam. Bibirnya komat-kamit mengucapkan doa. Ah, pemandangan ini tiba-tiba membuatku merasa ciut hingga sebesar semut. Tak ada momen yang paling menyadarkan dan mendera hati dengan rasa bersalah karena alpa terhadap Tuhan selain penyakit paling mematikan. Pun, ketika hidup rasanya sudah di ujung tanduk seperti yang terjadi padaku sekarang.
Doa yang dipanjatkan sang pendeta menenangkan degup jantung dan menyejukkan hatiku. Aku lega dan tenang, sejenak.
Beberapa detik kemudian aku tercekat tak kepalang. Sebab, sesosok makhluk hitam ganjil melongok dari tubuh-tubuh yang mengelilingiku. Makhluk yang mengejarku barusan di alam mimpi! Dia menyeringai penuh kemenangan karena telah menemukanku seolah tadi kami bermain petak umpet. Ingin aku berteriak minta tolong. Pita suaraku tak berfungsi dan bibirku tak bisa bergerak. Tak ada sepotong kata pun yang berhasil keluar dari tenggorokanku.