Kuputuskan untuk ikut berdoa di dalam hati, mengulang-ulang kalimat yang diucapkan pendeta. Pilihan kata-katanya sudah pasti lebih benar dari doaku barusan. Aku berharap doanya cukup ampuh untuk membebaskanku dari teror ini. Makhluk itu melangkah mendekat seolah tak sedikit pun terganggu oleh doa-doa yang mengancamnya. Seringainya semakin lebar. Aku menggigil.
Aku tak dapat melawan ketika dia merenggutku paksa. Mencengkeram leherku seolah aku ayam yang siap dijagal. Semakin kuat makhluk itu mencekikku, semakin besar keinginanku untuk berteriak, semakin keras pula si pendeta berdoa, sahut menyahut dengan doa yang juga mulai diucapkan orang-orang di sekelilingku dengan suara yang tak kalah kerasnya.
Tampaknya doa itu tak manjur, sebab aku tetap saja berada di cengkeraman makhluk hitam ini. Dia membawaku pergi semakin jauh, meninggalkan dengung doa yang bergemuruh.
Medan, 2017-2019