Saya sebenarnya tidak suka dia kerja di bank. Tepatnya, saya tidak suka dia bekerja. Sebab saya sudah memiliki penghasilan tetap yang cukup dipakai satu bulan, dan pasti masih ada sisa kalau mau hemat. Tapi, dia menolak. Lebih baik kita cerai saja kalau kau suruh aku berhenti, begitu bantahnya ketika saya memintanya berhenti. Saya tidak berhasil mencegahnya berhenti. Karena saya tidak ingin ada perceraian. Karena saya sangat mencintainya. Ya, begitulah. Cinta memang butuh pengorbanan.
Hingga pukul sembilan, Sunyi juga belum muncul. Aku yakin, dia takut menghadapiku, begitu pikir saya. Memang wajar dia takut. Sebab semalam kami bertengkar. Tetapi bukan saya yang memulai. Dia yang memulai dengan tuduhan bahwa saya menyuruh orang untuk memata-matainya. Tuduhan itu tidak salah. Seratus persen benar. Saya memang menyuruh orang untuk memata-matainya. Tetapi bukan tanpa alasan. Saya melakukan itu karena saya mendengar kabar dari teman akrab saya kalau dia memiliki hubungan serius dengan laki-laki tampan yang juga bekerja di bank. Mulanya saya tidak mau percaya. Sungguh. Kenapa? Pertama, karena saya juga (masih) tampan. Kedua, saya belum punya bukti. Meski tuduhan Sunyi kepada saya benar, saya tidak mau mengakuinya. Saya meminta Sunyi menunjukkan bukti. Aku punya bukti, begitu kata dia sambil menunjukkan foto laki-laki muda di ponselnya. Bersumpah-sumpah saya mengaku tidak kenal laki-laki itu. Sunyi naik darah ketika saya beri dia pertanyaan:
“Apakah benar kau menyukai laki-laki lain?”
Dia pun menjawab begini:
“Aku kerja di bank. Di bank pasti ada lakilaki. Ketika saling bertemu muka, pasti terjadi komunikasi. Kadang ada yang sampai menggoda. Kadang cuma iseng bertanya kabar sambil menyentuh kulitku. Kadang ada yang curhat soal rumah tangga. Kadang ada yang mengajakku makan siang di rumah makan. Kadang ada yang mengajakku duduk berdua di sebuah ruangan membicarakan hal serius. Tapi belum tentu saling menyukai. Lalu, untuk apa kau bertanya seperti itu? Tidak profesional. Tidak bijaksana.”
Saya bisa mencerna dengan baik jawaban itu. Namun, bukan jawaban itu yang saya minta. Tetapi, jawaban tentang laki-laki tampan yang pernah mengajaknya beberapa kali ke sebuah hotel yang sama. Saya tidak mendesaknya. Memberinya waktu untuk berpikir. Siapa tahu dengan begitu dia bisa jujur. Setelah lama diam, kalimat yang keluar dari mulutnya mengagetkan saya.