“Aku memang punya hubungan dengan lakilaki lain,” begitu katanya. “Bahkan aku telah tidur dengannya,” imbuhnya.
Pengakuannya itu seperti sebutir peluru mengenai tubuhku. Aku seperti mati dan bangkit lagi dengan pikiran kacau-balau. Coba pikir, suami mana yang tak terkejut saat istrinya yang berkali-kali ditidurinya tiba-tiba bilang seperti itu? Saya tanya kenapa dia tega berbuat begitu, dan dia bilang dengan nada seperti tak orang tak berdosa:
“Apa kau tak berkaca? Kamu sudah tua! Meski berkali-kali helai-helai uban di kepalamu kau semir itu tidak akan mampu menutupi usiamu di mataku. Kau memang masih terlihat tampan. Tapi, sekali lagi, kau sudah tua. Setelah aku pikir ulang, menyesal aku menerima perjodohan kita dulu, dan kemudian memberikan tubuhku padamu.”
Hati saya sakit sekali mendengar itu. Lalu saya tanya kenapa tidak dari dulu dia bilang begitu, dan dia jawab:
“Mulanya aku pikir bisa kuat menerima perbedaan usia yang terlampau jauh. Mulanya aku pikir bisa bertahan menerima kenyataan dan sindiran-sindiran teman-teman kerjaku. Mulanya aku pikir bisa kuat hidup bersama bayangbayang masa depan tentang aku dan kau. Tapi, rupanya tidak. Fakta sekarang mengatakan, kau hampir enam puluh dan aku masih tiga puluh lima. Aku masih cantik, dan kau sudah lapuk. Sebenarnya, sudah dari dulu aku ingin pergi darimu. Tapi aku mencoba bertahan dan menundanya. Dan sekarang kau sudah tahu semuanya. Jadi secepatnya kita harus berpisah.”
Mendengar ucapannya itu, kepala saya seperti dipukul kayu berkali-kali. Sampai-sampai serasa mau lepas dari pangkalnya. Meski semua yang dia katakan benar, tapi tetap saja menyakiti telinga saya, menyakiti tubuh saya seluruhnya. Dan, sejak terungkapnya kebenaran itu, tubuh saya dikuasai iblis. Berulang-ulang iblis membisiki telinga saya begini: “Jangan lepaskan dia. Dia hanya milikmu. Kau tahu apa yang harus kau lakukan.” Saya pun berpikir keras, memikirkan apa yang harus dilakukan. Tak butuh lama, saya menemukan solusinya. Ya, saya akan membuatnya menjadi sebuah boneka. Dan saya juga sudah memilih cara untuk mewujudkan rencana saya itu.
Lalu, karena sampai jam sepuluh dia tak muncul-muncul, maka saya bangkit dari kasur dan mencarinya. Saya mencarinya mulai dari kamar depan. Dan saya menemukannya di kamar belakang. Dia duduk menghadap dinding, membelakangi pintu masuk kamar. Dia sudah berpenampilan rapi. Travel bag ada di sisi kasur. Sepertinya dia sudah bersiap-siap pergi dari rumah. Saya cuma mengintip saja dari pintu yang terbuka sedikit. Sebelum saya masuk kamar itu, saya kembali ke kamar saya dan mengambil benda yang bisa membuatnya menjadi boneka. Benda itu saya letakkan dalam lemari di kamar saya.