Setelah mengambil benda itu saya kembali ke kamar belakang. Dengan langkah pelan saya mendakatinya. Iblis semakin kuat dan leluasa membisiki telinga saya. “Ya, terus, terus. Lakukan sekarang. Buat dia jadi milikmu selamanya,” begitu bisik iblis kepada saya. Tanpa pikir panjang lagi, melalui perantara benda itu, dua butir peluru saya masukkan ke dalam tubuhnya lewat punggungnya. Dua butir peluru itu menembus tubuhnya dan menancap di dinding. Darah segar muncrat. Dia pun roboh ke samping. Jatuh ke lantai. Jadi boneka. Bukankah manusia tanpa jiwa itu tak ada bedanya dengan boneka?
Kemudian, saya angkat tubuh Sunyi dan membawanya ke kamar saya. Tubuhnya saya rebahkan di kasur, mirip orang sedang tidur. Selapas itu, saya hanya duduk saja. Saya sempat menyesali perbuatan saya. Tetapi iblis kembali menghasut saya dengan mengatakan seperti yang sudah aku sebutkan tadi. Dan saya terpengaruh.
Begitulah kisahnya. Selepas menuliskan kisah itu, saya naik ke kasur, berbaring di samping tubuh Sunyi, hendak membuat boneka kedua. Lalu, dengan mata terpejam, saya tekan pelatuk pistol. Saya bisa merasakan pergerakan sebutir peluru masuk lewat dagu dan akhirnya keluar lewat ujung kepala saya. Ya, jadilah saya seperti sekarang dan bertemu kalian di pemakaman umum ini.
Sekarang, saya harus pergi, mencari istri saya.
Asoka, 2019
AS Noor lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980, tinggal di jalan Asoka Nomor 163 Pajagalan Sumenep 69416 Madura-Jawa Timur. Buku kumpulan cerpen tunggal perdana: Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring (Intishar, 2017).