Gara-gara Udang

“Hai, Rio. Apakah kamu sudah mengerjakan PR matematika?” tanya Anton saat istirahat.

Rio sengaja tidak menjawab pertanyaan Anton. Justru memilih bergabung bersama anak laki-laki yang sedang bermain sepak bola di lapangan.

Hari itu, benar-benar tidak ada teman yang mau bermain dengan Anton. Anton sendirian. Keesokan harinya pun, teman-temannya masih menjauhi Anton.

Tak lama, Bobi datang. Wajahnya masih agak kemerahan. Meskipun sudah tidak bengkak seperti dua hari lalu. Anton membantu membawakan tas milik Bobi. Bobi tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

Rio yang melihatnya justru heran dengan sikap Bobi.

“Kenapa kamu masih mau berteman dengan Anton? Dia kan bukan teman yang baik?” protes Rio.

“Bukan teman yang baik?” dahi Bobi mengkerut.

Sementara Anton memilih untuk diam. Dia tidak ingin membuat suasana kelas semakin gaduh.

“Iya. Waktu itu kalian berkelahi, kan? Wajahmu bengkak. Aku tahu, kok. Aku ke rumahmu sore itu. Dan ada Anton juga disana. Dia berlari pulang waktu kamu memarahinya, kan?” Rio menceritakan dengan jelas kejadian yang dilihatnya.

Bobi berusaha mengingat-ingat.

“Berkelahi? Kami sama sekali tidak pernah berkelahi. Buat apa? Iya kan Anton?” tanya Bobi lagi.

Anton pun mengangguk setuju.

“Lalu, kenapa wajahmu waktu itu bengkak?” Rio masih tidak percaya.

Suasana di kelas menjadi tegang. Mereka khawatir akan ada perkelahian antara Rio dan Bobi. Tiba-tiba Bobi tertawa cekikikan. Rio tidak mengerti apa maksudnya.

“Oh, itu? Jadi kamu kira, waktu itu wajahku bengkak karena habis berkelahi?” Bobi masih tidak dapat menahan tawa.

Sekarang justru Rio yang tidak mengerti apa yang lucu?

“Jadi begini. Wajahku waktu itu bengkak bukan karena berkelahi. Tapi, karena aku alergi udang. Dan waktu Anton berlari dari rumahku, karena aku meminta tolong untuk membelikan air kelapa muda untuk mengurangi gatal dan bengkaknya.” Bobi menjelaskan.

Wajah Rio menjadi kemerahan karena menahan malu.

“Saya minta maaf ya, Bob?” Rio mengulurkan tangannya.

Arsip Cerpen di Indonesia