Oleh Mia Cisadani (Suara Merdeka, 12 Mei 2019)

HARI ini Bobi tidak masuk sekolah. Sebagai teman sebangkunya, Rio merasa sepi. Karena saat jam istirahat tidak ada yang menemaninya ke kantin. Biasanya, Bobi paling suka beli donat sate dengan taburan gula halus.
“Nanti sore jenguk Bobi di rumahnya, ah!” gumam Rio.
Tapi, Rio tidak tahu alamat rumah Bobi. Rio ingat, Bobi pernah bercerita kalau rumahnya dekat dengan rumah Anton. Rio segera menemui Anton, dan meminta alamat rumah Bobi. Anton baik hati. Ia pun menuliskan alamat rumah Bobi pada secarik kertas.
“Terima kasih,” ujar Rio.
Sore hari, Rio bergegas ke rumah Bobi. Ia mengayuh sepedanya. Rumah Bobi berada di kampung sebelah. Saat ingin masuk gang, Rio berhenti sejenak. Mencocokan alamat yang diberikan oleh Anton.
“Gangnya sudah benar. Tinggal cari nomor 43. Cat hijau. Dan dan ada pohon mangga di depannya,” gumam Rio.
Rio mengayuh sepeda perlahan. Dari kejauhan, ia melihat Anton juga datang ke rumah Bobi. Yang membuat Rio terkejut adalah, wajah Bobi bengkak. Lalu Bobi menyuruh Anton untuk pergi lagi. Anton pun langsung berlari kencang.
Rio bersembunyi di balik mobil yang terparkir di depan dekat rumah Bobi. Mereka sama sekali tidak mengetahui ada Rio di sana. Rio bertanya dalam hati, “Jangan-jangan mereka habis berkelahi? Wajah Bobi sampai bengkak seperti itu?”
Rio jadi tidak suka dengan sikap Anton. Kenapa Anton tega dengan Bobi. Bukannya mereka berteman baik. Perasaan Rio tidak enak. Ia tidak jadi menengok Bobi. Rio pun segera pulang ke rumah.
***
Keesokan harinya, Rio menceritakan kejadian itu kepada teman sekelasnya.
“Apa? Masa sih Anton nakal seperti itu?” teman-temannya tak percaya.
“Benar. Aku lihat sendiri kok. Wajah Bobi bengkak semua. Matanya, pipinya, bibirnya. Kasihan deh.” Rio meyakinkan teman-temannya.
Teman-temannya pun percaya kalau Anton adalah anak yang nakal. Ketika Anton datang, tak ada satu pun teman yang mau mendekat. Mereka takut akan menjadi sasaran kenakalan Anton selanjutnya.