Aku berharap adikku menghilang saja, tapi tidak ada yang menghiraukan katakataku tentang Adik. Ayah dan ibu tetap sayang kepadanya meski kelakuannya tidak normal. Ibu tetap mengajarinya baca tulis di rumah—karena tidak ada sekolah yang mau menerima Adik sebagai murid. Dan sesabar apa pun ibu mengajarinya, adik tetap bebal. Sekadar mengeja mama papa saja dia tidak bisa. Yang bisa adik lakukan hanya membuat keributan, memberantakkan rumah, dan mengganggu hidupku.
Pernah suatu hari kulihat adik bermain dengan kucing piaraanku. Karena kulihat dia tidak sedang kumat, kubiarkan dia bermain. Namun, baru sebentar aku ke toilet untuk buang air, adik dan kucingku sudah tidak berada di tempat di mana aku meninggalkan mereka. Ketika kucari ke belakang rumah, adik menggantung kucing piaraanku dengan seutas tali di dahan pohon mangga, sedangkan dia berjingrak ria di bawahnya sambil bernyanyi Balonku Ada Lima.
Kucingku tak terselamatkan meski ayah segera memberi pertolongan setelah mendengar jerit histerisku. Ketika melihat kucingku berbujur karena mati lemas, dalam benakku aku membayangkan sedang memukuli kepala adik dengan sebongkah batu. Mungkin kalau kepalanya yang bebal itu dihajar dengan batu hingga berdarah baru adikku bisa sembuh dari penyakit gila. Tapi aku tahu ayah dan ibu tidak akan membiarkanku melukai adik, maka yang bisa kulakukan hanya menangis histeris hingga aku lelah dan tertidur.
Kucingku dikubur di bawah pohon, di mana ia digantung oleh adik. Dan untuk beberapa hari ke depan aku mogok makan. Aku katakan kepada ibu bahwa aku tidak akan makan kalau adik tidak diusir dari rumah. Namun, ibu tentu tak mendengarku. Ibu bilang adik tidak sengaja. Mendengar itu aku terbengong-bengong.
Aku pernah tidak sengaja memecahkan vas bunga, tapi tidak sengaja menggantung seekor kucing di dahan pohon mangga hingga mati bukan hal yang bisa diterima akal sehat!
Ayah dan ibu terus membujukku. Mereka bilang akan membelikanku seekor kucing yang sama persis seperti sebelumnya atau yang lebih bagus lagi dengan bulu putih yang lebat. Aku menolak. Tak terbayang bagaimana jika nasib kucing yang baru sama mengenaskannya di tangan adik.
Sejak kematian kucingku, setiap malam aku menyusun rencana agar terbebas dari adikku; agar dia keluar dari rumah, agar dia tidak lagi menjadi adikku. Apa pun akan kulakukan. Rasanya sudah cukup semua penderitaan yang harus aku terima karena kehadiran adikku yang tidak waras.