Sejujurnya aku senang dengan perubahan adikku. Seperti itulah seharusnya adikku; manis, penurut, penyayang binatang, dan pandai, bukan gila dan hobi berteriak-teriak. Namun, melihat bagaimana dia setiap kali menatapku membuatku bergidik ngeri.
Setiap malam, aku bermimpi buruk adik mencekikku hingga aku kehabisan napas seperti kucing piaraanku. Aku ketakutan, tapi aku tidak bisa bercerita kepada siapa pun. Aku tidak tahu apa yang direncanakan oleh adikku yang kini pindai dan selalu tersenyum manis. Mungkin aku harus mulai belajar berdamai dengannya, setidaknya agar aku tidak lagi merasa ketakutan?
Melihat kepandainya yang terus berkembang, setahun kemudian adikku telah masuk sekolah dan disenangi banyak orang karena sikapnya manis. Dia punya banyak teman, sedangkan aku tetap menyimpan ketakutan pada adikku. Ketika suatu hari kedua orang tua kami pergi untuk sebuah urusan dan aku hanya tinggal berdua dengan adikku, kuberanikan diri untuk menanyainya.
Butuh waktu lama untuk mengumpulkan keberanian. Belum lagi tatapan adikku yang seolah ingin melahapku membuat nyaliku menciut.
Dia sedang bermain dengan kelincikelincinya yang kini berjumlah puluhan ekor di taman belakang rumah di mana dulu kucingku dikubur. Aku mendekatinya dengan perasaan waswas. Bisa saja dia benar-benar akan melahapku saat itu juga, terlebih tidak ada orang lain di rumah.
“Siapa kamu?” tanyaku.
Dia menoleh, membuat rambutnya yang hitam panjang berkibar tertiup angin. Dengan mata beningnya dia menatapku dan senyum begitu manis. Tatapan kami bertemu. Saat itulah aku tahu bahwa dia memang bukan adikku. Bukan. Karena setahun yang lalu, sebelum dia menghilang sepekan lamanya, aku mendorongnya ke sumur dekat taman kompleks.
Aku jelas mendengar suara kecipak air di dalam sumur menandakan adikku tercebur di dalam sana. Aku juga melihat tangan kecilnya yang melambai-melambai meminta tolong. Saat itu aku ingat bagaimana kucingku mati karena dirinya, aku ingat bagaimana aku diejek teman-temanku karena kelakuannya. Harusnya dia tidak terlahir sebagai adikku, maka kututup sumur tua itu dengan seng seolah tidak terjadi apa pun.
Bojong, Mei 2019
Tiqom Tarra, lahir dan tinggal di Pekalongan. Runner up lomba novelet Loka Media dengan novelet ‘Renjana” (Loka Media, 2017). Buku kumpulan cerpen perdana “Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana” (JWriting Soul, 2018).