Harusnya Adikku Tidak Pulang Malam Itu

Suatu hari, di mana ada pasar malam di kompleks sebelah, aku membiarkan adik ikut denganku. Ayah dan ibu tentu senang karena mereka menganggap aku sudah mulai berbaikan dengan adik.

“Bagus, memang seperti itulah harusnya kakak-beradik,” kata ayah yang dilanjut dengan tawa penuh kebanggaan, begitu juga dengan ibu.

Tidak tahu saja mereka kalau setibanya di pasar malam, aku meninggalkan adikku di dekat komedi putar. Kutinggalkan dia yang masih senyam-senyum melihat bendabenda yang belum pernah dilihatnya. Aku sengaja tidak langsung pulang ke rumah, melainkan ke mampir ke rumah temanku agar rencanaku berhasil. Namun, setibanya di rumah, betapa terkejutnya aku melihat adik sudah duduk manis di depan televisi sambil menjilati lolipop yang tadi kubelikan untuknya.

Ibu bilang, seorang tetangga menemukan adik dan membawanya pulang. Dan dengan gagap aku berbohong bahwa sejak tadi aku berusaha mencari adik yang entah hilang ke mana. Entah kedua orang tuaku percaya atau tidak karena setelahnya aku disuruh mandi kemudian tidur.

Hari-hari berjalan seperti biasanya; penuh kegaduhan yang diakibatkan oleh adik. Sampai suatu hari adik menghilang sepekan lamanya. Ayah dan ibu mencari ke sana kemari, tidak juga ketemu. Mereka juga melaporkan ke polisi, menempel poster di setiap tiang listrik, bahkan menampilkan foto adik yang penuh liur di berita di televisi. Adik tidak juga ketemu, sampai di suatu malam, di tengah hujan lebat, seseorang mengetuk pintu depan. Pelan. Sebanyak tiga kali.

Ibu yang membukakan pintu seketika menangis tak henti-henti melihat adik berdiri kedinginan di depan pintu. Ayah ikut menangis haru, sedangkan aku jatuh terduduk saking terkejut melihat adik.

“Tidak, tidak mungkin,” gumamku.

Ada perubahan yang begitu kentara dari diri adikku sejak kepulangannya. Dia tidak seperti adikku yang gila. Adik tidak pernah lagi bicara ataupun tertawa sendiri seperti dulu. Dia tidak lagi berteriak-teriak seperti orang gila dan yang lebih mengherankan, adikku bisa baca tulis. Dia bisa mengeja kata dengan baik hingga ibu berpikir untuk segera memasukkannya ke sekolah yang sama denganku. Sebagai hadiah, ayah juga membelikannya seekor kelinci putih. Setiap hari adikku bermain dengan kelinci itu dan tidak ada tanda-tanda dia ingin menggantungnya di dahan pohon mangga belakang rumah. Adikku benar-benar menjadi seseorang yang berbeda.

Arsip Cerpen di Indonesia