Sebelum hamil, Samira pemah bermimpi. Dalam mimpi itu, ia menangkap seekor burunng gagak, lalu memeliharanya. Kemudian, ia terbangun dari tidurnya. Begitu mengejutkan. Keringat di kening ia usap dengan kain jarit batik. Ia tak bisa tidur kembali sampai azan suhuh menggema di utara jalan. Ia terus memikirkan mimpi itu. Biasanya, burung gagak pertanda hal buruk. Keesokan harinya, ia bercerita kepadaku tentang mimpi menangkap gagak itu.
“Biasanya, burung gagak itu pertanda buruk. Kata orang-orang dulu, jika ada burung gagak yang hinggap di pekarangan rumah, anggota keluarga rumah akan ada yang meninggal. Kata mereka, juga cara memanggil gendruwo dengan membakar daging burungnya. Pokoknya aku takut, jika itu pertanda sial,” keluh Samira kepadaku.
Di sebuah ranjang berisi beberapa palawija dan umbi-umbian yang beberapa hari lalu dia panen jemur untuk menghindari jamur, kemudian dimasukkan ke karung. Lalu, menjemur jagung di pelataran rumahnya. Sudah aku katakan dari awal, Samira orang yang tidak bisa diam. Tetapi ia juga tak bisa menghindari ingatan mimpi itu dari kepalanya. Dia berusaha mengusir ingatan itu dengan menyibukkan diri dengan banyak kegiatan. Namun, mimpi itu selalu menghantui, seolah sudah mengendap di otaknya.
***
Di kampung, sering ada pencurian ternak. Hampir setiap hari ternak warga hilang tak tahu rimba. Pemah suatu malam, pencuri temak yang meresahkan itu kepergok setelah berhasil memboyong seekor ayam jantan. Tetapi, maling itu berhasil meloloskan diri dengan masuk ke rerimbunan semak, Warga terus mengejarnya, tetapi hasilnya nihil. Untungnya, ayam jantan milik Pak Dukuh berhasil diselamatkan.
Sehari sebelumnya, maling terkutuk itu berhasil membawa kambing warga. Kandang temak dan rumah terpisah antar satu sama lain. Biasanya mereka membuat kandang berjarak belasan meter dari rumah mereka, untuk menghindarkan bau tak sedap dari kotoran ternak. Tetapi selama ini, jarang sekali ada pencurian ternak.
Setiap malam, warga melakukan penjagaan. Mereka mengelilingi kampung dan beristirahat di gardu dekat pertigaan jalan. Berjaga sampai waktu fajar tiba. Biasanya mereka membawa kopi dan kacang rebus atau singkong rebus.
Dua hari berselang, ada kabar mengejutkan lagi. Tewasnya Jono telah menggegerkan seisi kampung. Ya, tewas dengan keadaan mengenaskan. Dibunuh seseorang di rumahnya sendiri. Tewas dengan dada penuh luka. Terpisah antara tubuh dengan jantung dan hati. Ada puluhan bekas luka tusukan di lambungnya. Luka tusukan di bagian perut membuat ususnya terburai bersamaan dengan cairan merah berbau anyir. Pembunuhan ini tak hanya beeniat menghilangkan nyawa, tetapi juga penyiksaan terhadap korban. Di area pembunuhan, terdapat bercak-bercak darah dan lendir, serta beberapa potongan daging. Tak pernah kubayangkan sebelumnya, ada pembunuhan semacam itu.