Kebencian Seorang Wanita

“Apa mungkin ini ada kaitannya dengan makhluk gaib?” ucap Pak Dukuh.

“Aku kira, ini murni pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang. Melihat bekas-bekas tusukan di lambung, jelas ini pembunuhan yang dilakukan berdasarkan kebencian. Tapi kenapa jantung dan hati Jono diambil?” jawab salah satu warga.

“Iya, ini penyiksaan yang berakhir pembunuhan,” sambung warga lain. Warga dibuat bingung dengan peristiwa pembunuhan itu. Samira terus menangis. Aku kasihan dengannya. Dia sedaug hamil tanpa kehadiran suami. Jauh dari saudara. Jauh dari kerabat.

Aku menginap di rumah Samira. Membantunya memasak. Ia sering cerita kepadaku, tentang janin di dalam perutnya yang menendang-nendang. Apalagi saat dia ngidam. Sungguh, dia merasa bangga. Sebagai teman karib, aku selalu bersedia mendengar ceritanya. Kurang lebih, selama kami tinggal di kampung ini—hampir dari usia kami, dihabiskan untuk persahabatan kami. Meski aku dan dia terpaut umur lima tahun, aku sudah memiliki empat anak. Putriku yang sulung sudah mau menikah, sedangkan Samira baru mengandung anak yang pertamanya.

Mendengar ceritanya, aku bergidik dan jijik. Bagaimana aku tidak merasa seperti itu—ini sungguh tidak lazim. Samira sering mengidam sesuatu yang amat aneh dan di luar batas kewajaran. Aku terkejut dan merasa ada sesuatu yang mengganjal. Ini benar-benar hal yang tak terpikirkan oleh siapa pun. Samira mengaku sering ngidam darah. Dia juga mengakui bahwa dia yang telah mencuri ternak warga. Setiap malam, tubuhnya seperti mendapat energi yang berlipat-lipat dan membuat dirinya tampak tak seperti orang yang sedang hamil. Ia menjadi lebih kejam dari pada serigala, bahkan ia tega membunuh suaminya

“Aku bisa membunuh suamiku karena aku mendapat kekuatan dari kebencian. Kau mesti tahu, kekuatan kebencian seorang wanita bukan? Dari pada aku harus mencuri ternak warga terus-menerus, lebih baik aku menenggak darah suamiku. Aku bedah dadanya. Aku koyak-koyak isi di dalamnya. Tak salah, jika aku membredel dadanya, karena hatinya sudah terisi wanita lain,” ucapnya.

Usia kandungan yang semakin membesar, dia semakin haus darah. Malam semakin dingin. Listrik padam. Api lilin bergoyang-goyang. Samira tersenyum. Aku mulai merasa ada yang tidak beres. Dia tersenyum sendiri. Berkali-kali. Namun, beberapa waktu kemudian, dia terisak. Sendu-sedannya begitu menyedihkan. Aku dibuat bingung. Dia menyandarkan kepalanya di pundakku sambil memegang perut yang semakin buncit. Aku mengerti bagaimana perasaan seorang wanita. Hamil tanpa suami. Aku juga paham dengan hati yang dikhianati. Dalam hal ini, aku benar-benar tidak bisa memberi jalan keluar. Dia masih di pundakku, meskipun sebenarnya aku takut dan ingin keluar dari rumah Samira.

Arsip Cerpen di Indonesia