“Apa ini, Ed?” tanya Buk Mun.
“Beras, Buk. Untuk dimasak.”
“Lah, dikasih siapa?”
“Beli, Buk.”
“Duitnya siapa, Le?” Le, sebutan Jawa bagi anak laki-laki di kampung.
Edi penuh khawatir menjawabnya. Jangan-jangan ibunya marah jika tahu dirinya mengamen.
“Duit dari mana? Apa dikasih Ustaz Samsul?” tanya Buk Mun sekali lagi.
Ustaz Samsul adalah guru mengaji di mushala kampung. Sudah menjadi kebiasaan Edi setiap sore untuk mengaji lalu mem bantu Ustaz Samsul membersihkan mushala sebelum shalat Maghrib dimulai.
“Bukan, Buk.”
“Jangan pernah sekali-kali berbuat tercela. Jangan pernah mencuri dan meminta, Le,” tutur ibunya.
“Tidak, Buk, Edi tidak pernah mencuri. Sungguh. Edi hanya ngamen di perempatan kota dengan Mas Udin.”
Seketika Buk Mun terperangah. Terperanjat berdiri dari duduknya sambil mengelus-elus dada. Plastik beras itu masih dibawanya. Kakinya mencak-mencak. Mukanya mengerut menangis resah.
“Ediii…”
Edi tahu ibunya pasti akan marah. Namun, dia tahu hati tulus Buk Mun yang demikian lembut tak pernah mampu melontarkan kata-kata kasar kepada anaknya. Edi hanya tertunduk meski sesekali pundaknya didorong-dorong sang ibu.
“Ed, Ibuk tak rela. Ibuk tak mau. Ibuk tidak ridho kamu jadi pengamen.”
Buk Mun masih merintih kesedihan. Air mata ibu itu pecah. Rasanya terluka dengan seribu sayatan sebab dia tak pernah meng ajarkan putranya menjadi anak jalanan.
“Jangan lagi. Ibuk tak mau menerima lagi hasil ngamen-mu.”
Edi menggeleng-geleng.
“Maafkan Edi, Buk. Edi janji tidak akan ngamen lagi.”
“Sekolah saja, Le, sekolah yang pinter. Tidak usah mikir uang. Tidak usah mikir beras. Ibuk masih bisa usaha. Edi sekolah yang tekun. Besok orang yang ngelmu itu akan sukses.”
“Nggih, Buk. Edi janji. Edi janji akan jadi orang berilmu.”