Recehan Serakah

Apa hendak dikata, Edi saat itu hanya ingin membantu ibunya yang single parent mencari nafkah. Usaha ibunya serabutan. Kadang jualan gorengan, kadang buruh cuci di rumah tetangga, kadang juga tenaga harian di tukang jahit, sementara harus menghidupi Edi dan dua adik laki-lakinya. Namun, sejak Edi masuk SMK, recehan masih berpihak kepadanya. Tawaran dari kawan Buk Mun, Pak Ngadimin, disetujui. Buk Mun akhirnya rela Edi membantu Pak Ngadimin sebagai tukang parkir untuk sementara waktu. Bagi mereka, tukang parkir adalah pekerjaan terhormat. Halal. Banyak membantu orang. Ketika mobil-mobil mewah berdatangan, tukang parkir harus merapikan barisannya agar tak mengganggu jalan umum. Rasanya seperti sebuah tugas yang harus ditunaikan. Menjaga barang mewah meski bukan miliknya. Kendati mobil mewah itu telah pergi, tukang parkir juga tak pernah merasa rugi sebab amanah telah tertepati. Namun, hal itu bukanlah cita-cita. Bagi Edi, menjadi pegawai kantor adalah keinginan terbesarnya setelah lulus SMK.

Aku kembali menyelami fantasi Edi, mengingat kisah ini dari budheku sendiri yang tidak lain adalah ibu dari Mas Edi saat kami bertemu di hari Lebaran. Isak pilu aku mendengarnya. Bahkan, budhe tak bisa menahan air matanya saat bercerita. Sudah tentu melihat budhe meleleh, rasanya air mata ini juga tidak bisa dibendung. Gemuruh batin seolah ingin mengeluarkan budhe dari kepahitan hidup. Ibuku yang adalah adik kandung Buk Mun juga tak bisa berbuat banyak waktu itu sebab kehidupan kami pas-pasan.

Di cerita itu, budhe hampir-hampir putus asa. Pernah lewat seminggu Edi belum juga sembuh dari demam. Tubuhnya panas namun dia merasa menggigil kedinginan. Berat badannya tampak turun. Pipinya cekung dan matanya sembap. Tentu saja Buk Mun sangat khawatir. Dia harus segera membawa putranya ke puskesmas. Sapu-sapu dompet masih cukup untuk biaya berobat tapi tidak untuk biaya opname. Buk Mun akhirnya memilih merawat Edi di rumah. Kedua adiknya-lah yang membantu menjaga Edi ketika buk Mun sedang bekerja mencari uang.

Pak Ngadimin terpaksa harus mencari pengganti Edi. Maka tak berpikir panjang, Buk Mun rela menggantikan posisi itu.

“Jangan engkau, Mun,” kata Pak Ngadimin.

“Jangan lagi jika engkau pecat Edi, Kang. Hasil parkir ini lumayan bagi kami.”

Pak Ngadimin menghela napas panjang.

“Bukan karena engkau perempuan, Mun. Tapi, engkau tak menguasai medan. Engkau bahkan tak tahu arah setir.”

“Engkau lupa, Kang. Almarhum bapaknya Edi adalah sopir truk. Aku pernah ikut menemani beliau mengantar barang antar provinsi. Jangan ragukan kemampuanku. Aku paham soal arah kendaraan.”

Arsip Cerpen di Indonesia