Sepucuk Revolver di Bawah Pohon Mapel

Rasanya aneh sekali, pikir Russel, menyaksikan pohon itu membesar dalam tempo yang sangat singkat. Rasanya baru kemarin ia membuang sepucuk revolver dan menguburnya di sela akarnya. Kali ini, usai ingatan itu muncul, Russel tersenyum. Ia merasa kepulangannya memiliki tujuan.

Revolver di bawah pohon itu harus dicarinya. Ada satu pekerjaan yang belum selesai dengan benda itu. Pria itu lantas memperhatikan rumahnya. Memang tidak ada yang berubah. Hanya pada bagian pintu, catnya terkelupas, tapi warnanya masih tetap sama seperti saat ia terakhir meninggalkannya dua puluh tahun yang lalu.

Ketika Russel sedang asyik memandangi rumah itu dengan penuh minat, dari balik pintu rumah sebelahnya, seorang pemuda keluar. Pemuda itu berpenampilan rapi. Rambutnya hitam dan kulitnya cerah. Ia memakai celana panjang dan kemeja hitam dengan kerah sedikit terbuka, seolah-olah baru pulang kerja.

“Paman Russel?” sapa pemuda berwajah bundar dan klimis itu ragu-ragu.

“Siapa ya?” tanya Russel sambil mendekat. “Apakah aku mengenalmu?”

“Saya Tom,” jawab pemuda itu tersenyum lebar. “Masih ingat?”

Russel ragu untuk sesaat. Tapi ia mencoba menguatkan diri. “Aku merasa canggung,” katanya jujur. “Rasanya aku tak mengenalmu.”

Pemuda itu tersenyum kecil dan menghampiri Russel sambil menenteng dua kerat bir. Orang lain mungkin punya cara lebih mudah untuk membangun sebuah hubungan. Tapi kadang percakapan ringan saja tak cukup. Gores-gores nyata mesti muncul, terlihat dari sikap dingin yang ditunjukkan Russel.

“Kau tampak gugup.” Pemuda itu berkata pelan. “Minumlah dulu.”

“Terima kasih.” Russel menerima tawaran itu dengan malu. Bulu mata panjang itu bergerak-gerak dan setitik sinar tampak di sudut matanya. “Aku tadinya berharap tak ada yang mengenaliku.”

Pemuda bernama Tom itu mengangguk dan menenggak birnya yang mengepulkan uap tipis. “Aku masih 9 tahun saat itu,” sahutnya datar. “Tapi peristiwa itu masih bisa kuingat dengan baik.”

“Aku jahat sekali, kan?” ujar Russel mendesak. “Tidak apa-apa. Kau boleh membenciku. Aku pantas menerimanya. Siapa pun di kota ini boleh membenciku.”

Arsip Cerpen di Indonesia