Berusaha mengalihkan percakapan, pemuda itu tertawa pelan. “Tampaknya kau cukup baik mengurus dirimu sendiri,” katanya sambil mendesah kecil. “Orang-orang bilang, penjara federal adalah tempat yang terkutuk.”
Russel tertawa sumbang. “Itu benar. Di sana tempat orang-orang terkutuk. Jangan pernah pergi ke sana, sekalipun untuk berpiknik,” ujarnya sambil menggenggam botol bir pemberian Tom dengan erat. Ia menyukai hawa dingin yang merambat di kulit telapak tangannya.
“Aku paham.” Tom setengah menghormat. “Setidaknya saat ini kau telah selesai membayar hukumanmu.”
“Bisa kau pahami bagaimana rasanya menjadi orang tua yang membunuh anaknya sendiri?”
“Aku minta maaf,” ucap Tom lirih. “Aku mencampuri urusanmu terlalu jauh. Aku hanya berusaha menjadi tetangga yang baik.”
“Tak ada yang perlu dimaafkan,” sahut Russel santai. “Tak ada tempat untuk melarungkan kata maaf selain pada foto-foto yang tergantung di rumah ini.”
“Yah, sepertinya aku harus pergi,” tukas Tom pengertian. “Kau bisa memanggilku jika butuh sesuatu.”
“Tentu saja, Nak,” jawab Russel tersenyum tipis. “Kau memang tetangga yang baik.”
Tom beranjak dan masuk ke rumahnya. Russel berdiri, membuka pintu rumahnya pelan-pelan dengan jemari bergetar hebat. Dua puluh tahun telah membuat rumah itu menjadi istana laba-laba dan hewan-hewan pengerat. Debu dan tahi kucing kering bertumpuk di setiap sudut, menghasilkan aroma asam bercampur apak.
Sambil menutup mulut dan hidung, Russel menuju barisan foto-foto yang berselimut debu tebal di dinding. Pandangan matanya berhenti pada salah satu foto anak kecil yang sedang berdiri di atas lantai dermaga bersama seorang perempuan bergaun merah. Sebuah payung biru melindapi tubuh keduanya.
“Sialan!” gerutunya pelan. Russel menunduk dengan muram. “Aku masih belum bisa memaafkan kalian. Tak akan pernah bisa.”
Russel terlihat seperti jasad purba yang tersimpan di museum. Rambut perak lemas, kumis tikus, bahu kaku, dan raut wajah seperti kulit anggur yang keriput. Bagian dalam kelopak matanya seperti darah beku, alisnya tampak seperti semak belukar. Ia bergerak perlahan dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai ujung dermaga.