Dermaga kecil itu tenang. Laut berwarna emas dalam sepuhan cahaya bulan. Sebuah net voli terkulai turun, seolah menunggu para pemain tiba. Laut bergulung-gulung, kekal, dan tak acuh, bibir tipis ombak berubah menjadi keriting kecil saat mengempas ujung dermaga. Suasana itu melemparkan ingatan Russel pada Bernard dan Carolina.
Sekarang, hampir dua puluh tahun sejak terakhir kali Russel melihat laut. Hampir dua puluh tahun sejak ia terkurung di balik pengapnya dinding penjara. Ia sudah lupa betapa laut bisa membuatnya begitu kecil dan remeh, seakan dirinya hanya partikel yang mengambang di atas permukaan bola mata raksasa yang dapat melihat segala sesuatu.
Peristiwa itu memang kecil dalam putaran-putaran peristiwa alam semesta. Tapi begitu besar artinya bagi Russel. Dulu, ketika ia pertama kali digelandang seregu polisi yang melemparnya seperti sekantong sampah ke penjara, Russel terbiasa menipu diri sendiri bahwa Tuhan memiliki rencana untuk dirinya-sebuah rencana yang berangsur-angsur tersingkap dan entah bagaimana membenarkan semua hal yang dilakukannya.
Tetapi sekarang, pikiran-pikiran itu membuat Russel jengkel. Ia menuduh bahwa Tuhan mungkin pribadi yang super-sibuk. Tuhan mungkin sedang menghitung ombak dan menamai awan. Tuhan berpikir tentang kepiting batu di Laut Atlantik atau gelembung sabun di Kairo. Tuhan berpikir tentang infeksi bakteri di Peru dan kumbang tahi di Afrika, atau tentang pola aneh cuaca di Lingkar Pasifik. Singkatnya; Tuhan tak pernah punya waktu untuk memikirkan dirinya.
Russel berteriak, teriakan pahit yang berkata, “Aku ini binatang!” Teriakan kesakitan yang ia tujukan pada bulan, bintang, lampu kapal di kejauhan, karang yang dipukuli ombak, kamar penjara yang ia tinggalkan, lorong-lorongnya yang suram, para penjaganya, dan pada Tuhan itu sendiri. Dengan batin yang habis dimamah kekecewaan, Russel berpikir teriakan seperti itu mestinya bisa mendorong ombak kembali ke laut, memutar kembali waktu hingga ia bisa mengelak dari peristiwa-peristiwa yang tidak ia inginkan.
Ia benci pada malam ketika ia menemukan Bernard dan Carolina sedang bergumul mesra. Entah bagaimana, anak itu bisa meniduri ibu tirinya. Pengkhianatan itu tak pernah bisa ia maafkan sekalipun dengan memberi mereka hukuman mati dengan sepucuk revolver-yang usai malam biadab itu, telah ia kubur di bawah pohon mapel. Russel memejamkan mata, berdiri gontai di lantai dermaga, dan berusaha keras mengusir bayang-bayang itu dari kepalanya.