“Wahhh, kok pakai lapor polisi segala, Bung hehe. Padahal saya membawa kabar duka buat Bung,” sahutnya cepat. Suaranya mendadak berubah; terdengar pelan, seperti sedang berbisik.
Jawaban orang asing dari balik pintu itu cukup membuat mataku terbelalak, tiba-tiba rasa kantuk hilang begitu saja berganti dengan rasa penasaran dan cemas. Agak lama aku terdiam, berpikir, apakah orang ini hanya iseng atau …
“Hallo, Bung masih di sana? Boleh saya masuk dulu, Bung? Boleh? Di luar cukup dingin,” Suaranya yang menyebalkan itu memecah lamunanku. Aku masih berdiri mematung di depan pintu. Pagi-pagi begini, siapa yang tidak kaget tiba-tiba mendengar kabar duka? Tapi, tunggu, masih ada kemungkinan orang ini hanya iseng. Ya, barangkali hanya iseng. Lantas aku mengintip dari lubang gagang pintu, tapi tak terlihat apapun, lubangnya terlalu kecil! Maka aku memberanikan untuk membuka pintu, supaya jelas, supaya cepat selesai, dan supaya waktu tidurku tak terlalu banyak terpotong …
Pintu kubuka perlahan … tapi tunggu, tunggu, dan astaga … Apakah suara itu hanya mimpi? Apakah memang mimpi?! Tak ada seorang pun di luar. Mataku semakin terbelalak, aku mengusap mataku, menampar kedua pipiku, dan bahkan kucubit tubuhku keras-keras. Barangkali ini sekadar mimpi. Tapi sungguh, tak ada seorang pun di luar!
Apakah ini benar-benar hanya mimpi? Tapi aku masih berdiri mematung meski telah kucubit tubuhku atau kutampar kedua pipiku.
Aku coba memastikan, kulihat di sekitar dan memang tak ada satu pun tanda-tanda kehidupan. Sepagi ini penghuni kamar kos lain tentu masih terlelap. Tapi apakah ini hanya iseng dan sekadar kejutan? Bisa, tapi bisa juga tidak.
Kututup pintu cepat-cepat, aku duduk di atas kasur dan coba kembali mengingat-ingat dan pertanyaan itu masih tetap kupikirkan: apakah ini benar-benar mimpi? Aku mematung di atas kasur, benar-benar seperti patung! Memandang sangat jauh, berusaha mengumpulkan kesadaran penuh dan coba menjawab apakah suara itu hanya mimpi? Kulirik jam di dinding, pukul 5 lewat 10 menit. 10 menit, artinya waktu telah berjalan 10 menit. Dalam keadaan yang entah aku mencoba berpikir kemungkinan-kemungkinan lain, meski ujung-ujungnya kembali pada tiga hal: antara mimpi, orang iseng, atau sesuatu yang mengerikan baru saja terjadi.
Saat aku masih bergelut dengan kemungkinan-kemungkinan; dengan pikiran dan tanyaku sendiri tiba-tiba suara—yang kini justru terdengar menyeramkan— itu muncul lagi dari balik pintu yang telah kututup rapat.