“Hallo, Bung. Hallo. Jadi saya ini boleh masuk atau tidak? Saya ini membawa kabar duka loh.” Aku berusaha menenangkan diri, mengatur napas, dan memikirkan sesuatu yang paling mendekati realitas: itu hanya orang iseng! Ya, iseng! Sebab ini bukan mimpi.
Ketukan kembali terdengar, dari luar, dari balik pintu. Dan kemudian suara itu kembali muncul,
“Ah, apa Bung tidur lagi? Hallo, Bung yang di dalam, saya boleh masuk atau tidak ini?”
Baiklah. Suara itu memang benar-benar ada. Aku memastikan setelah sekali lagi kucubit tubuhku keras-keras, sangat keras dan ini memang bukan mimpi. Kutarik napasku dalam-dalam, masih banyak kemungkinan dan aku tak boleh terlalu panik.
“Bung,” sahut orang asing itu, masih dari luar.
“Saudara jangan main-main ya! Jangan iseng pagi-pagi begini atau saya benar-benar akan menelepon polisi!”
“Hmmm kok bawa-bawa polisi lagi, tidak sekalian tentara kalau begitu? Memangnya saya salah apa? Saya kan justru membawa informasi buat Bung, kabar duka ini Bung harus tahu. Biarkan saya masuk, Bung, biarkan saya jelaskan baik-baik di dalam.”
Cukup. Hari ini pagiku dibuka dengan sesuatu yang aneh, sesuatu yang menyeramkan dan sekali lagi ini bukan mimpi dan suara itu memang benar-benar ada. Tapi apakah harus sepagi ini? Lantas sekali lagi aku beranjak, lututku agak gemetar dan tapi harus kupastikan siapa seseorang di luar itu. Kuintip sekali lagi dari lubang gagang pintu, tapi tetap tak terlihat apapun sebab lubang itu memang terlalu kecil. Baik. Baik, akan kubuka sekali lagi.
Rasa penasaran, cemas, dan takut bercampur menjadi satu. Aku berdiri di depan pintu, mengumpulkan napas dalam-dalam lantas pintu kubuka sedikit dan kuintip dari celahnya: tetap tak ada seseorang pun di luar. Astaga … Tubuhku semakin lemas dan kepalaku mulai membayangkan yang tidak-tidak. Apakah mungkin hal menyeramkan begini muncul di pagi hari, harus sepagi ini?
Pintu sesegera mungkin kututup dan aku kembali mematung di atas kasur. Kemudian suara itu terdengar lagi, suara menyebalkan, menyeramkan, dan aneh dari luar pintu.
“Hallo, Bung. Saya masih menunggu ini, boleh masuk atau tidak?”
“Hallo …”
Sekali lagi, kupejamkan mataku dan kutarik napas dalam-dalam …
***