Tentang Luka

Pernahkah kau melihatku sedetik saja? Bukan untuk mencintaiku namun mengagumiku. Aku seakan kehilangan arah. Sahabatku berkata, sangat sulit untuk bisa dekat denganmu. Aku percaya padanya, mengingat dia adalah teman yang dekat denganmu. Namun entah mengapa aku rasa kau berbeda ketika bersamaku. Apa pun yang kita bahas selalu menimbulkan gelak tawa darimu walau itu hanya lewat media sosial. Pernah suatu ketika, kita berjalan bersama dan saat itu tengah gerimis. Kau bersenandung lalu aku mengatakan padamu untuk berhenti melakukannya karena aku akan jatuh cinta untuk detik berikutnya. Kau mengingatnya? Aku begitu berani bukan? Dan tetap saja kau anggap aku hanya bercanda.

Ketika jarak menjadi satu-satunya alasan aku merindu. Ketika rasa menjadi satu-satunya alasan aku mencinta. Merelakan menjadi satu-satunya cara untuk melupakan. Begitu menyakitkan bukan? Kaki ini tetap melangkah dan mata tetap menatap lurus ke depan. Aku baik-baik saja seperti yang kau saksikan saat ini. Semua berjalan seperti yang kau harapkan. Tertawa lepas tanpa beban. Kau melihatnya? Aku rasa sekadar melihat tanpa ada rasa ingin tahu lebih jauh, bukan? Berbeda dengan diriku. Setiap aktivitas yang kau lakukan selalu menjadi tanya bagiku. Apa pun yang ada dalam dirimu selalu menjadi pemandangan setiap hari bagi diriku. Sangat berlebihan? Aku rasa cinta tak selalu mengajarkan untuk menjadi manusia yang normal.

Perlahan kupejamkan mata menikmati deru angin yang terbawa oleh ombak. Ini sangat membantu, batinku. Tak ada yang dapat mengubah semuanya. Termasuk hatiku yang sudah terlanjur tersakiti oleh harapan yang aku ciptakan sendiri. Perasaan yang selalu menjadi luka dalam setiap langkah. Seperti halnya hari ini. Ketika aku ke kampus, kembali aku bertemu dirimu. Kau datang dari tangga ujung sebelah kanan sedangkan diriku berada di depan tangga ujung sebelah kiri sedang bercengkrama bersama seorang teman. Hanya melihatmu sekilas, lalu aku beranjak pergi. Selang beberapa waktu, aku kembali untuk masuk ke ruang kelas dan kembali bertemu dirimu. Kau tahu? Aku kembali berpura-pura tidak mengenal dirimu. Menjadi orang yang asing. Hal ini tentunya sangat menyiksa diriku. Bagaimana tidak? Kau adalah kepingan rindu yang berada tepat di sampingku.

Satu hal lagi yang ingin aku sampaikan. Mengapa ketika rasa itu berangsur-angsur menghilang, kau datang kembali dengan berbagai alasan klasik yang sulit untuk aku terima. Setelah pertemuan di kampus yang berakhir tak saling tegur sapa, aku kira hatiku akan benar-benar berakhir. Hingga malam menyambut, mengapa kau hadir kembali menyapaku lewat komentar WhatsApp. Kau tahu, aku kembali percaya diri untuk mempertahankan harapan tentangmu. Hatiku kembali bergetar untuk kesekian kalinya. Aku bahagia, ketika kau bercerita tentang masalahmu. Aku bahagia ketika kau mengeluh padaku. Aku bahagia ketika kau menganggapku ada. Aku harus bagaimana?

Arsip Cerpen di Indonesia