Tentang Luka

Jika benar, menyerah adalah kunci dari semuanya, siapa yang mampu berhenti dari harapan yang begitu nyata ada di depanmu? Saat cinta itu semakin besar, bisakah aku lari dari kenyataan hati yang semakin merindu? Tak bisakah sedikit saja, waktu memberiku ruang untuk merelakan?

Ada keputusasaan yang memenuhi benakku tentang dirimu. Ada beribu pertanyaan yang selalu membawa diriku pada imaji: itu hanya sebuah kebetulan. Dia sama sekali tidak merasakan getaran yang sama seperti hal nya dirimu. Aku selalu membenarkan kenyataan itu. Hanya saja, aku bingung dengan semua ini. Bisakah sedikit saja kau menunjukkan hal demikian? Ya, bahwa kau memang tidak memiliki rasa yang sama. Kau tahu? Aku lelah. Aku lelah tentang ketidakadilan rasa yang selalu membawa pada jarak tentangmu. Jarak yang tercipta dari alasan klasik: dia tidak menyukaiku. Lalu, mengapa semua hanya seperti gambaran luka yang tidak akan nyata? Kalian juga tahu, kalau aku tetap bertahan dalam situasi apa pun tentang dirinya. Hanya saja, ini berbeda.

Ada banyak cara untuk menghapus segala rasa. Namun, tetap saja ruang kosong itu selalu tentangnya. Aku tak dapat pungkiri bahwa aku mengharapkan takdir itu bersama diriku. Aku, mencintainya. Tak apa. Aku sudah merasakan luka lebih dari ini. Ketika aku tengah memperjuangkan cinta yang tepat ada di depan mataku, cinta itu tengah mempertahankan cinta yang tepat di depan matanya dan bahkan tengah di genggamnya.

Aku termenung di depan pintu. Menatap tetesan hujan yang jatuh tepat di pecahan batu. Orang-orang lalu-lalang untuk datang lalu pergi. Meninggalkan jejak yang hampir tak berbekas. Akan tetap ada luka dari setiap tawa. Membawa pergi hati yang tak bertuan. Walaupun catatan-catatan tentangnya masih basah di kertasku. Logika selalu memaksa untuk melepaskan, tetapi rasa enggan untuk sekadar beranjak menikmati setiap cerita. Ada banyak perjuangan yang tak bisa diungkapkan tentangnya. Bisakah ruang memberikanku sedikit waktu untuk sekadar bercengkerama bersama masa kini? Kau tahu? Aku bahagia!

Aku bahagia dengan keadaan saat ini. Bercengkerama bersama dirinya dan saling mengkhawatirkan satu sama lain membuat hatiku bergetar untuk kesekian kali. Aku paham bahwa semua hanya imaji yang aku cipta sendiri bahwa dia akan bersamaku. Tak apa. Aku akan menikmati segala kenangan indah ini. Aku akan mempertahankan semua yang telah terjadi walau kenyataannya aku akan tetap terluka.

***

Arsip Cerpen di Indonesia