Tentang Luka

“Izinkan aku menyapa sebelum kau benar-benar terlelap. Lega rasanya bisa berjumpa sebelum kau benar-benar terlelap. Lega rasanya bisa berjumpa kembali denganmu. Saling menyapa lewat senyuman. Ah, rasanya setiap kata yang ingin aku lontarkan selalu gagal jika bersama dirimu. Ingin rasanya menunggu esok untuk menulis kisah ini. Hanya saja, entah mengapa aku terlalu bahagia sekaligus terluka pada waktu yang sama. Mengapa rasa ini seakan menjadi beban tersendiri dalam setiap langkah. Helaan napas setiap memandang dirimu dari belakang membuktikan keputusasaanku tentang dirimu. Mengapa kau seakan di langit dan aku di bumi. Mengapa Tuhan selalu menciptakan “rasa” yang membawa luka yang sama. Ingin rasanya aku menggapai dirimu. Namun, kembali lagi aku tersadar akan tempatku. Kau terlalu jauh. Sangat jauh dari jangkauanku. Kau tahu? aku ingin berdiri di sampingmu sekadar menikmati lagu yang sama. Bersenda gurau dan tertawa lepas bersama. Saling menatap dan bertukar pikiran. Namun, aku terpaksa memilih menjauh. Kembali memberi jarak yang kesekian kalinya membunuh diriku. Tidak ada yang lebih sakit dari mencintai seorang laki-laki yang tidak pernah sekadar menengok kepadamu, bukan?”

(@mustyka_daratuwaode)

 

 Wa Ode Mustika Daratu, lahir di Bone-Bone, 14 Agustus 1997. Mahas iswa Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Halu Oleo. Aktif di berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan, menangani bidang media sosial di Kelas Inspirasi Kendari, dan IKA Duta Bahasa Sulawesi Tenggara tahun 2019. Penulis dapat dihubungi melalui Instagram: @mustyka_ daratuwaode dan Facebook: Mustika Daratu Waode.

Arsip Cerpen di Indonesia