Hukuman yang Pantas bagi Plagiator

“Leo Kembara, sepertinya dia cerpenis anyar, aku coba search namanya di Facebook, Twitter, dan Instagram, tak kutemukan namanya. Mungkin dia pakai nama pena, Bim.”

“Mm, iya, sepertinya aku baru dengar nama itu. Ngomong-ngomong, cerpen yang judulnya apa yang diplagiat?”

“Judulnya Penantian, pernah dimuat koran lokal. Leo menjiplaknya bulat-bulat, hanya mengganti nama-nama tokoh dan judulnya saja. Sialnya, cerpen yang diganti judul menjadi Jalan Pulang itu dimuat koran Kosmos minggu ini! Gila! Koran nasional incaran para cerpenis di negeri ini yang honornya mencapai satu juta, Bim!” aku menggeram emosi.

“Wah, beruntung sekali Leo, ya?”

“Hei, beruntung gimana maksudmu?” jujur saja, aku kurang suka dengan ucapan Bima. Intonasinya terkesan membela si plagiator dan seolah tak berempati denganku.

“Eh, maksudku, ya beruntung saja bisa tembus Kosmos, sayangnya cerpen tersebut hasil plagiat, ya?”

Lantas, aku pun berdiskusi dengan Bima, perihal apa yang harus aku lakukan. Aku pun meminta pendapat Bima, kira-kira hukuman apa yang pantas bagi plagiator. Namun hingga nyaris satu jam, kami tak kunjung menemukan hukuman apa yang tepat bagi Leo. Terlebih, identitasnya hingga saat ini belum kunjung terungkap.

“Satu-satunya jalan aku harus segera melaporkan ke redaksi Kosmos, agar Leo di-blacklist secepatnya dan honornya tak dicairkan.”

Bima menatapku dengan kerutan di dahinya.

“Sepertinya kamu ada ide lain?” tanyaku.

“Kalau menurutku sih, lebih baik ditunggu seminggu dululah, Bram. Sampai kita menemukan identitas siapa sebenarnya Leo.”

Mulanya aku sangat tak setuju dengan usulan Bima. Tapi setelah kupikir-pikir, ada benarnya juga mencari tahu terlebih dahulu siapa sebenarnya Leo Kembara. Siapa tahu nanti aku menemukan ide lain yang lebih cocok untuk menghukumnya.

***

Konsentrasi mengetikku ambyar saat men­dengar suara dering ponsel yang kurasa begitu asing. Aku melirik ponselku yang tergeletak di samping laptop dengan kondisi nonaktif karena sedang dicas. Hei, jangan-jangan ponsel Bima ketinggalan?

Arsip Cerpen di Indonesia