Hukuman yang Pantas bagi Plagiator

Dering itu masih terdengar. Pandanganku lekas menyapu seputar kamar dan kemudian berhenti di atas samping bantal guling. Tebakanku benar. Ponsel Bima ketinggalan. Aku berhenti dari aktivitas mengetik cerpen terbaruku. Lantas segera meraih ponsel milik Bima. Dering itu berhenti ketika aku baru memegang ponselnya. Baru saja aku bersiap dan berniat mengembalikan ponsel Bima ke kamarnya, sebuah notifikasi pesan WhatsApp masuk. Mulanya aku tak berniat membuka pesan yang entah dari siapa itu. Kalian tentu tahu kan, membuka ponsel milik orang itu tindakan yang tidak sopan?

Namun, entah mengapa ada energi begitu kuat yang memaksa tanganku untuk membukanya. Bim, honor Kosmosnya sudah cair? Traktir, dong! Hei, tentu saja aku langsung kaget tak kepalang saat membaca pesan dari Tias, yang kuyakini sebagai kekasih Bima. Karena beberapa waktu lalu Bima pernah cerita tentang kekasih barunya itu.

Merasa ada yang tak beres dengan isi pesan tersebut, aku pun segera membaca pesan-pesan Tias sebelumnya. Aku langsung syok bukan main dan spontan membanting ponsel Bima. Kurang ajar! Bagaimana bisa dia, teman yang lahir di kota yang sama denganku, tega berbuat sejahat ini padaku, teman yang selama ini telah membantu mengajarinya tentang cara menulis yang jujur?

Ternyata, Leo Kembara merupakan nama pena Bima. Oh, pantas barusan Bima minta aku agar mengulur waktu seminggu sebelum melaporkan Leo ke redaksi Kosmos. Pasti, ya, pasti agar honor Kosmos bisa dicairkan dulu. Karena, sebagaimana kata teman-temanku yang pernah dimuat di sana, tak sampai seminggu honor sudah masuk ke rekening.

Saat aku masih menggeleng-geleng antara percaya dan tidak, tiba-tiba pintu kamar kosku diketuk seiring suara orang yang sangat kukenali.

“Bram, ponselku ketinggalan,” dari suaranya, ada nada khawatir yang tak bisa disembunyikan.

Aku memandangi pintu sambil menggeram. Sementara tangan kananku terkepal spontan. Aku sudah siapkan bogem mentah yang akan kulayangkan ke wajah Bima saat aku membuka pintu kos ini. Aku rasa, ya, aku rasa ini hukuman yang cukup pantas bagi plagiator tengik macam dia.

 

Puring Kebumen, 23 Juli 2018

Arsip Cerpen di Indonesia