Oleh Elok Diliyanti (Kedaulatan Rakyat, 26 Mei 2019)

MIKO mengayuh sepedanya dengan cepat. Ia tak sabar ingin segera sampai di lapangan. Teman-temannya sudah menunggu di sana.
“Miko, kamu kok lama banget, sih?’ Erwin yang melihat Miko dating berkata sambil bersungut-sungut.
“Hehehe… maaf, ya. Aku tadi memompa ban sepedaku dulu,” ujar Miko sambil nyengir.
“Hampir saja kami pulang,” sahut Agha kesal.
“Iya… untung kamu segera datang.” Erwin menambahkan.
Miko tertawa kecil mendengar teman-temannya yang menggerutu kepadanya. Miko, Erwin, dan Agha meletakkan sepeda di pinggir lapangan. Ketiganya duduk di bawah pohon yang rindang dan mengeluarkan buku dari tas masing-masing, juga alat tulis.
“Kita mau menulis apa, ya? Aku bingung.”
Agha berkata sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Aku juga pusing, tugas dari Pak Bowo sulit nih,” sahut Erwin.
Miko tersenyum geli melihat wajah kedua temannya itu. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
“Udah nggak usah pusing. Aku kan bawa ini,” ucap Miko sambil menunjukkan sebuah benda kepada teman-temannya.
Erwin dan Agha melihat benda yang dipegang Miko. Mereka saling memandang satu sama lain.
“Apa itu, Ko?” tanya Agha. Ia heran Miko membawa benda aneh seperti itu.
“Ini bisa membantu kita. Ini aku bawa dari rumah,” kata Miko menjelaskan.
Kedua temannya masih tidak menanggapinya. Apanya yang bisa membantu mereka? Pikir kedua teman Miko. Pak Bowo memberi tugas kelompok untuk menulis tentang tanaman yang bermanfaat untuk kesehatan, Miko malah membawa benda aneh itu.
“Ini namanya kunyit.” Miko mulai menjelaskan kepada kedua temannya.
“Aku bawa ini untuk menjadi bahan tulisan kita,” lanjut Miko lagi.
“Memangnya kamu tahu apa manfaatnya bagi kesehatan?” tanya Erwin, ia masih belum percaya kalau benda itu bisa membantu tugas mereka.
“Tahu, dong,” jawab Miko yakin.