“Tentu, Tuan,” jawab pembuat kursi. Balok dari tangannya ia turunkan, menggeletakkan di lantai bersama tumpukan balok lain yang telah ia kerjakan. Selerak repihan serutan kayu menghambur bercampur debu, membuat tamunya buru-buru membekapkan telapak tangan ke hidung.
Di luar, angin bertiup sedikit lebih deras dari sebelumnya. Pembuat kursi itu berdiri, menutup sebagian tirai matahari di gerbang masuk tempat kerjanya, berbarengan rombongan itu keluar. Orang yang beranjak paling belakang sempat berbisik kepadanya, “Ketahuilah, yang baru saja memesan kursi tadi, adalah orang penting.”
***
Belum sepekan lewat sejak kunjungannya, rombongan dalam dua jip itu kembali datang. Dua orang di jip pertama dan tiga orang di jip kedua. Mereka datang memastikan apakah pesanannya mulai dibuat.
Melihatnya masuk, pembuat kursi meletakkan siku baja yang baru ia pakai memeriksa sudut balok yang selesai diketam, mendongak ke arah tamunya dan menyambut, “Maaf, Tuan, kalau boleh saya bertanya: untuk apa sebenarnya kursi istimewa seperti yang Tuan pesan itu?”
Sedikit memeram kesal di parasnya, tamu itu berujar, “Kamu tahu, kursi istimewa sekarang amat susah didapat.” Lalu balik bertanya, “Jadi kamu tidak tahu untuk apa orang memesan kursi pada kamu?”
“Selama ini, saya hanya membuat, Tuan.”
Seusai melepas hela napas, mirip orang berpidato tamu itu berkata, “Saat kursi yang selama ini diduduki mulai terasa kerendahan, kekecilan, atau terlalu sederhana; maka saat itulah orang menginginkan duduk di kursi yang lebih tinggi, lebih besar, atau lebih mewah. Sementara orang-orang yang belum merasakan duduk di kursi yang istimewa, berusaha pula memilikinya.”
Penjelasan tamu itu hanya menerbitkan tawa tipis si pembuat kursi.
***
Tak jua tanggal sikap congkak tamu itu ketika datang lagi. “Bagaimana dengan kursi istimewa pesanan saya? Sudah jadi?” tuntutnya.
“Sebenarnya, sebelum kedatangan Tuan, ada pemesan lain yang lebih dulu meminta dibuatkan kursi seperti yang Tuan pesan itu,” elak pembuat kursi, merasa yakin paras tamunya sontak berubah kesal. “Orang itu ingin pula dibuatkan kursi yang tidak ada samanya, baik yang telah maupun yang akan saya buat. Dan anehnya, setelah kedatangan Tuan, beberapa orang datang pula dengan maksud yang sama. Entah kenapa banyak orang memesan kursi seperti itu.”