“Di luar sana, di banyak kota, kursi-kursi buatanmu memang telah menimbulkan persaingan,” tamu itu menyela dengan nada suara meninggi. “Dan saya ingin yang lebih daripada mereka.”
Pembuat kursi menghentikan gerak tangannya memaku bagian kursi yang sedang ia kerjakan, sejenak menyimak lanjutan kalimat tamunya, “Makanya buatkan saya kursi yang super-istimewa, yang melebihi keistimewaan kursi-kursi mereka.”
Tak terpengaruh kalimat tamunya yang bernada ancaman, si pembuat kursi kembali memukulkan palunya ke kepala paku.
Sebelum berlalu, tamu yang selalu datang berpengawal itu berkata tegas, “Bila saya datang berikutnya, kursi istimewa pesanan saya harus sudah selesai kamu buat.”
***
Si pembuat kursi merasa tidak sedang bermimpi. Dalam remang, ia lihat dinding-dinding kamar berputar, berbareng denging suara kakeknya masuk ke kupingnya, “Orang-orang yang telah membeli kursi buatanmu selalu saling pamer; merasa kursikursi mereka begitu istimewa, dan mendudukinya membuatnya merasa jadi hebat. Akibatnya, mereka saling berebut pengaruh, memunculkan persaingan dan intrik banal. Kursi-kursi buatanmu malah menimbulkan kegaduhan: konfl ik, perpecahan, bahkan potensi kerusuhan. Jadi, Nak, untuk apa kamu membuat kursi, bila akibatnya seperti itu?” Sudah berpuluh-puluh tahun suara itu tidak ia dengar, sejak kakeknya meninggal, membuatnya menduga hanya sedang berhalusinasi.
Sampai berhari-hari kemudian, kejadian itu terus mengganggu pikirannya, membuatnya lebih banyak duduk-duduk saja alih-alih membuat kursi. Jari-jari tangannya yang telah demikian karib mengusap sisi-sisi sebuah balok kayu setiap selesai diketam, kini dibiarkan diam tak melakukan apaapa, membuatnya merasa jari-jari itu akan membatu. Hasrat membuat kursi serasa bunyi palu mengetuk-ngetuk paku sedang ada di dalam kepalanya.
Merapatkan tubuh pada bangku panjang, ia terus memikirkan kejadian itu. Dari tirai depan yang kisi-kisinya terlepas, siang ini angin yang berembus masuk sedikit lebih bersih dari hari-hari sebelumnya, mengusap-usap kelopak matanya, membuatnya tertidur.
Lalu muncul kejadian lain, membuat ia mau saja bersumpah, bahwa sosok kakeknya ia yakini sedang berdiri di sisinya, dan mendengarnya berkata, “Saya tahu susah hatimu. Agaknya memang sudah takdirmu mengabdikan hidup membuat kursi. Kalau kamu memang tidak bisa berhenti membuat kursi, maka cobalah membuat kursi yang sama sekali lain daripada yang biasa kamu buat….”