Ia terbangun oleh suara tirai penghalang sinar matahari yang terayun-ayun, seperti orang sedang mengetuk jendela depan. Begitu membuka mata, ia langsung bertekad tidak akan membuat lagi kursi istimewa yang malah membuat orang berkonfl ik. Sosok kakeknya yang telah lama tiada, yang dulu menurunkan kemampuan membuat kursi padanya, dua kali datang memberi isyarat. Kejadian itu membuatnya yakin bahwa memang sudah waktunya ia membuat kursi yang sama sekali lain.
Rancang dari wujud kursi itu coba ia buat pola di dalam kepalanya: sebuah kursi yang tidak bisa diperebutkan orang, tidak akan menimbulkan persaingan, dan tidak akan membuat konfl ik. Dalam bayangannya, orang yang duduk di kursi ini nantinya akan merasa sangat tenang, damai, dan tidak mengingini lagi kursi lain. Bila ada pemesan datang, ia bermaksud menawarkan kursi ini.
Saat itulah ada mobil berhenti, membuat debu bergemulung di depan rumah. Ia mengintip dari celah tirai, dan melihat tamu congkak beserta pengiringnya yang datang.
Sontak ia berdecak; walau tahu kedatangan tamu itu tentu untuk menagih kursi istimewa pesanannya, tapi ia berhasrat menawarkan kursi baru rancangannya. Buru-buru ia bangkit, menahan pengar yang mengurung kepalanya, seraya mencoba menguntai kalimat penawaran saat memapak tamu itu nanti. “Maaf, Tuan, usia telah melamurkan sebagian kemampuan saya membuat kursi istimewa seperti yang Tuan pesan. Sekarang saya hanya mampu membuat satu macam kursi; kursi khusus, dan bila Tuan berminat, akan saya buatkan yang seperti ini.”
Tamu itu bisa jadi tersenyum, pikirnya, mungkin sikap congkaknya seketika punah, dan tentu akan balik bertanya, “Kursi apa itu?” Dan ia sudah siapkan jawaban: “Kursi kematian.”
Saat itulah tamu beserta pengawalnya tiba di depannya, dengan wajah garang menghardik, “Mana kursi istimewa pesanan saya!” ***
Pangerang P. Muda. Berdomisili di Parepare Kumpulan cerpen terbarunya, “Tanah Orang-Orang Hilang” (Basabasi/2019).