Sepotong Es Tube di Bulan Ramadan

Pohon jati menjadi saksi kericuhan warga desa yang selalu berdesakan ketika tubuh Muhaimin muncul dari ujung jalan. Di bawah pohon jati itulah tempat Muhaimin biasanya membagikan es tube. Warga desa selalu berebut, bak ikan yang baru saja dilempari makanan ke permukaan air. Ia dengan senang hati memberikan sepotong es tube pada setiap warga desa yang datang ke pinggir jalan itu.

Tubuh gerobak sama sekali tidak kelihatan, ditutupi oleh tubuh-tubuh orang desa yang berkerubung tanpa alas kaki. Satu sama lain saling bersahutan, agar diberi es tube lebih dulu. Mereka tidak mau antre. Namun, Muhaimin lebih tahu siapa yang lebih dulu antre. Di balik tangannya yang sibuk memotong es tube, matanya tidak luput dari pandangan orang-orang desa yang berdesakan.

“Tenang, pasti semuanya dapat!” Muhaimin mencoba untuk meredam kericuhan orang desa, yang menanti es tube sampai ada di genggamannya.

Muhaimin memberikan es tube yang sudah dipotong menjadi balok kecil. Daun pisang yang sudah lama berada di atas telapak tangan warga desa, siap menerima potongan es tube tersebut. Muhaimin merasa lega ketika orang-orang desa meninggalkannya dengan senyum kebahagiaan. Ada yang sampai mencak-mencak ketika berhasil membawa sepotong es tube, itu tidak lain adalah tingkah anak-anak. Semua warga desa yang hadir di gerobak Mu haimin mulai dari kalangan bapak-bapak, ibu-ibu, mbahmbah, remaja, bahkan anak-anak.

Es tube yang berhasil didapatkan dari gerobak Muhaimin tidak lain dibuat untuk es kacang hijau, kolek dan jenis minuman yang menyegarkan untuk buka puasa. Bagi penduduk desa yang terkenal gersang dan sulit menemukan sumber air, menyeduh minuman es adalah surga dunia. Sekarang, mereka masih merasakan surga itu selama bulan Ramadan. Lepas itu, surga kembali pada habitatnya.

Memasuki pertengahan bulan, Muhaimin jatuh sakit. Badannya panas melebihi 40 derajat, kepalanya pusing dan batuk menyerang kerongkongannya. Namun, itu tidak menghalanginya untuk pergi ke Desa Guah untuk sedekah es tube. Istrinya sempat melarang, lantaran khawatir terjadi sesuatu yang buruk saat perjalanan. Lebih baik perbanyak isirahat agar segera sembuh, dan esok hari masih bisa pergi desa lagi. Muhaimin masih bersikukuh dengan pendiriannya. Ia berhasil meyakinkan istrinya bahwa ia akan baik-baik saja.

“Tidak ada yang lebih penting bagiku daripada bisa bermanfaat bagi orang lain. Aku masih belum berbuat apa-apa hari ini. Aku harus bisa memberi manfaat pada orang lain, yaitu dengan sedekah es tube.” Muhaimin mengembangkan senyum, seraya mencium kening istrinya.

Arsip Cerpen di Indonesia