Di pertengahan jalan, ia kelelahan. Ia turun dari sepeda motornya, lantas duduk di atas rumput-rumput, badannya dinaungi oleh pepohonan. Ia mengatur napas, menghirup dari hidung dan mengeluarkan dari mulut dengan pelan-pelan. Ia mengusap peluh yang membasahi tubuhnya. Beberapa menit kemudian tubuhnya lebih segar lantaran mendapatkan udara segar melalui embusan angin pelan. Sebelum beranjak menaiki sepeda motornya untuk melanjutkan perjalanan, tiba-tiba seseorang menghampirinya.
“Muhaimin!” Sosok lelaki separuh baya itu menyapanya. Celurit dan karung yang berisi rumput itu segera ia letakkan di tanah. Wajahnya oval, badannya tinggi, kepalanya ditutupi oleh tudung berwarna merah.
“Iya.” Muhaimin mengernyitkan dahi, menurut ingatannya, ia tidak pernah bertemu dengan lelaki separuh baya itu. Namun anehnya, lelaki itu mengetahui namanya.
“Rupanya kamu terlihat lelah. Mengapa kamu bersusah payah pergi ke Desa Guah untuk bagi-bagi es tube?” Lelaki itu sepertinya banyak tahu tentang dirinya.
“Bagaimana kamu bisa tahu itu?” Muhaimin masih belum menjawab pertanyaan lelaki itu.
“Aku tahu banyak tentang kamu. Di sini daerah kekuasaanku, dan kamu sering lewat jalan ini. Maka dari itu, tolong beri alasan mengapa kamu berbagi es tube ke Desa Guah, dengan ini aku akan merasa ikhlas jika kamu lewat di jalan yang masih terhitung lahanku.”
“Baiklah!” Tanpa berpikir panjang, ia mengiyakan. Kemudian ia duduk. Disusul oleh lelaki separuh baya itu. Setelah duduk, akhirnya ia memulai ceritanya—yang kalau saya bahasakan, begini ceritanya:
Dulu, di suatu bulan Ramadan, Muhaimin diminta ibunya untuk membeli es tube di toko. Sampai di toko, banyak pelanggan yang berdatangan untuk membeli sesuatu. Penjaga toko sibuk, hingga Muhaimin terabaikan. Kemudian, pikiran buruk menghampirinya. Tangannya yang sedari tadi sibuk memilah milih es tube di boks es, saat orang-orang sibuk bertransaksi, ia mengambil kesempatan untuk menjilati es tube yang ada di boks.
Kerongkongannya yang sudah lama menahan dahaga lantaran puasa, akhirnya bergembira setelah menikmati kesegaran es tube. Ia terburu-buru mengelap bibirnya yang basah agar tidak sampai ketahuan orang-orang. Setelah toko sepi, menyisakan penjual toko dan Muhaimin, akhirnya ia menyodorkan uang yang diberikan ibunya untuk ditukar dengan es tube.