“Minal ‘Aidhin wal Faizin, Mak. Mohon maaf lahir dan batin.”
“Iya, sama-sama, Nduk. Mamak juga minta maaf ya karena selalu merepotkanmu. Bahkan sekarang emak dan adik-adik bergantung hidup padamu,” suara emak terdengar parau di seberang sana.
Aku tahu emak tengah menahan tangis yang tak berani ia tumpahkan.
“Bagaimana kabar emak dan adik-adik sekarang?”
“Emak baik, Nduk. Adikmu Yanto sudah masuk SMP, sedangkan Tatik sekarang kelas empat SD.”
Kesedihanku seolah menguap begitu saja, seiring mendengar orang-orang yang kusayangi dalam keadaan bahagia dan hidup layak seperti orang lain. Pergi ke sekolah, bermain dan membaur dengan anak-anak sebaya mereka. Bisa memberi jajanan dan permen saat di sekolahan. Tidak seperti ke hidupanku dahulu, yang hanya tahu bagaimana mengambil jagung yang bekas dipanen orang. Jagung-jagung tersebut kami bawa pulang untuk dijual atau diolah menajadi nasi. Disantap bersama sambel tumpeng buatan emak, yang sekarang menjadi makan idaman yang ingin kunikmati.
“Ah… Emak, rasanya aku ingin sekali menikmati masakan olahan tanganmu.”
***
Mengingat masa lalu, sama halnya mengaduk bendungan air mata. Akhirnya jebol, meluap dan membanjiri pipi. Apalagi, saat mengenang kepergian bapak untuk selama-lamanya. Bapak meninggal saat hendak dirujuk ke rumah sakit di kabupaten. Penyakit Tubercolosis (TBC) dan komplikasi bapak yang sudah akut, membuat Puskesmas di desa kami tidak sanggup menangani. Karena tidak memiliki dana untuk menyewa mobil ambulans, kami pun terpaksa mencari mobil tetangga yang sudi mengantar kami ke Kabupaten. Terlalu lama menunggu, nyawa bapak pun tak dapat diselamatkan. Bapak mengembuskan napas terakhirnya di pangkuanku.
“Maafkan Nana, Pak. Nana belum sempat membahagiakan bapak. Tapi, Nana berjanji, akan merawat dan menjaga emak dan adik-adik dengan baik. Menyekolahkan mereka, seperti yang bapak harapkan.”
Telaga ini akhirnya basah, bersama senja dan birunya langit Formosa. Jelaga kehidupan perlahan sirna, saat seseorang sanggup memerangi dengan usaha dan iringan doa.
***