“Ana… Ana…!”
Gaung stereo suara nyonya membuyarkan lamunanku. Dengan tergopoh-gopoh kuambil langkah seribu untuk menemuinya di ruang kerjanya, di lantai dua. Aku dan nenek tinggal di lantai tiga, nyonya dan keluarganya di lantai empat, lantai lima digunakan untuk pertemuan keluarga besar dan cucu-cucu nenek di hari libur.
“Iya, Nyonya. Saya datang.”
“Nana, tadi agensimu ada telepon saya, empat bulan lagi kan kontrakmu habis, apakah kamu berniat meneruskan kontrak di sini, atau pulang seterusnya ke Indonesia,” tanya nyonya, seraya membenarkan letak kacama tanya yang melorot.
“Mmm…. Saya, … s-a-y-a belum tahu, Nyonya.”
Nyonya dan sekeluarga memperlakukanku dengan baik meskipun kerjaan di sini sangat melelahkan. Kami makan satu meja bersama. Karena aku tidak diberi jatah libur, ia pun kerap membelikan makanan Indonesia setiap mengantar barang pabrik ke sebuah kantor yang dekat dengan toko Indonesia. Gaji kerjaku pun di sini utuh karena telepon rumah juga dijatah sebulan sekali oleh nyonya. Hanya satu, nyonya tidak mengizinkanku berpuasa di bulan Ramadan. Selama ini aku melakukan shalat secara diam-diam dan takut ketahuan. Pada jam makan aku pura-pura duduk dengan mereka, pura-pura menyendok dan mengunyah. Padahal, makanan di mangkuk itu aku buang ke belakang.
Aku bergeming. Belum berani memberikan jawaban bersedia atau tidak untuk tanda tangan kontrak kedua bekerja di rumah ini. Tetapi, dalam benakku tebersit pertanyaan, “Jika aku ganti tempat kerja, apakah ada jaminan jika aku akan mendapat yang lebih baik dari ini, atau sebaliknya?” Aku pun menarik napas, membuang segala pertanyaan yang membuatku gamang.
“Bagaimana, Ana?” pertanyaan nyonya menyadarkan lamunanku.
Dengan perlahan dan pasti, aku pun mengutarakan permintaanku. Aku mau melanjutkan kerja jika nyonya meng izinkanku berpuasa di bulan Ramadan.
“Maaf Nyonya, saya mau melanjutkan kontrak di sini, asalkan nyonya mengizinkan saya untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan saya.”
“Tapi Ana, kalau kamu tidak makan selama sebulan, aku takut kamu jatuh sakit.”
“Tidak perlu takut, Nyonya. Saya tidak akan kelaparan karena menjalankan perintah Allah, sama halnya ketika Nyonya menjalankan ibadah di agama Nyonya. Berpuasa justru akan membuat saya sehat melatih kesabaran.”