Mantra Pemikat Lebah

Ki Broto tak menuduh Lurah Ngarso diutus bos penambang pasir untuk mengusir sarang lebah yang senantiasa mengganggu para penambang pasir di lembah pohon akar seribu dengan alat-alat berat, backhoe, buldoser, dan truk-truk yang akan membuat cekungan-cekungan menganga. Sepasang mata Ki Broto yang penuh kewaspadaan itu menampakkan penolakannya pada hasrat terselubung Lurah Ngarso.

***

Malam berkabut. Seorang lelaki muda, tiga puluh tahun, berambut panjang hitam lurus, duduk bersila di pendapa rumah Ki Broto. Tubuhnya kurus. Berbusana lurik, bersarung, dengan ikat kepala. Lelaki kurus itu tak dikenal di kalangan pemuka adat lereng Merapi. Menyalami dan mencium tangan Ki Broto, begitu keduanya bertemu.

“Saya Seto, dari lereng Gunung Merbabu. Mohon berkenan memaafkan saya yang bertamu malam-malam begini,“ kata lelaki kurus itu, masih dengan menunduk. Tak berani mengangkat muka, menatap wajah Ki Broto. “Saya diutus Lurah Ngarso untuk mengusir lebah yang bersarang di pohon akar seribu.”

Tenang, tanpa tekanan, Ki Broto menimpali, “Dan kau sudah menyanggupinya?”

“Betul, Ki. Saya lancang menyanggupi permintaan Lurah Ngarso. Sama sekali saya tak tahu, Ki Broto melindungi lebahlebah itu.”

“Lalu, kau minta izin untuk membinasakan lebah-lebah itu?”

“Saya tak punya keberanian melakukan itu. Saya hanya memiliki mantra pemikat lebah. Biar saya pindahkan lebah-lebah itu ke tempat lain. Apa Ki Broto keberatan?”

“Karena kau sudah menyanggupi permintaan Lurah Ngarso, jalani saja!”

Pelan-pelan Seto mengangkat wajahnya yang pucat. Memandang Ki Broto. Sekilas. Ia segera menunduk lagi. Ia sudah bisa menjajaki, bila Ki Broto bukanlah tandingannya. Ia bisa celaka bila memaksakan diri melawan lelaki berjenggot putih itu. Ia mohon diri, mencium tangan Ki Broto. Menunduk. Meninggalkan pelataran rumah dan padepokan Ki Broto yang luas, Seto terus melangkah memandangi u jung kakinya sendiri.

***

Masih terlalu pagi, Seto didampingi Lurah Ngarso dan dua orang penggergaji, berada di bawah pohon akar seribu. Sejenak Seto tengadah, memandangi sarang-sarang lebah hutan di dahan-dahan pohon akar seribu. Ia melangkah beberapa tindak, bersedekap, dan memejamkan mata: membaca mantra. Lebah-lebah hutan meninggalkan sarang, berdengung, terbang rendah mengitari tubuh Seto. Hinggap di tangan kanan. Lebah-lebah hutan itu tidak menyengat. D iikuti dengan lebah-lebah lain, berdengung, berkitar-kitar di kepala Seto. Hinggap di sekujur tubuh lelaki muda kurus itu. Ia berjalan, diikuti dengung lebah. Sekujur tubuhnya dihinggapi lebah. Ia menjauh dari bawah pohon akar seribu. Lebahlebah itu mengikutinya.

Arsip Cerpen di Indonesia