Dua jenazah penggergaji yang menghindarkan diri dari serangan lebah hutan ditemukan di dasar jurang. Terpencar. Tubuh mereka melepuh dan mengejang. Wajah lebam menghitam bekas sengatan-sengatan lebah itu tampak menahan sakit dan takut. Ki Broto dan beberapa orang warga mengangkat dua jenazah itu dari jurang, mengantarkannya ke rumah duka.
Tapi Ki Broto belum ingin kembali ke padepokan. Ia mengajak beberapa orang kembali memasuki hutan, mencari Seto. Memasuki hutan, beberapa orang yang setia pada Ki Broto berpencar, dan tak pernah memperoleh hasil apa pun. Tak ditemukan jejak Seto. Hingga senja, kabut mulai pekat, mereka memutuskan untuk meninggalkan hutan, “Kenapa Ki Broto berpikir Seto menghilang di hutan?”
“Ia memiliki mantra pemikat lebah. Lebah-lebah itu dapat ditaklukkannya. Tapi kemarin, ia sengaja membebaskan mantranya, dan lebah-lebah hutan itu kembali terbang ke sarang, menyerang dua orang penggergaji pohon akar seribu,” kata Ki Broto.
Pandana Merdeka, April 2019
S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta. Menyelesaikan Program Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma”