Berguling-guling di rerumputan, para penggergaji menghindar dari buruan lebah-lebah hutan yang menyengat tubuh mereka. Sopir truk, buldoser, backhoe, dan alat-alat berat yang lain melarikan diri. Terbirit-birit. Lelaki-lelaki kekar perkasa itu, yang ditakuti banyak orang, berlarian menyelamatkan diri dari kejaran kawanan lebah hutan.
Dua penggergaji yang diserang sengatan lebah hutan berlari ke arah sungai. Mereka menceburkan diri ke dalam permukaan air. Menyelam. Dengung lebah berpusar di atas permukaan air sungai. Menantikan kepala penggergaji tersembul. Orang-orang meninggalkan lembah di bawah pohon akar seribu. Tinggal dua orang penggergaji yang menyelam di bawah permukaan air sungai dan dengung lebah hutan yang berpusar-pusar di atas kepala mereka. Ketika kepala mereka menyembul ke permukaan air, kawanan lebah hutan itu ganas menyengat. Mereka bangkit dari berendam. Berlari menuju ladang petani dan hutan. Terus diburu kawanan lebah yang berdengung, hinggap di tubuh dan menyengat.
Mereka berguling-guling. Tapi tetap saja sekawanan lebah itu menempel dalam sekujur tubuh mereka. Dua orang penggergaji itu tak dapat membebaskan diri dari buruan sekawanan lebah hutan. Mereka berlari tanpa arah, tergelincir ke jurang curam. Terbentur-bentur bebatuan. Sekawanan lebah hutan itu terbang beriringan memasuki jurang. Memburu dua orang penggergaji yang terperosok ke jurang maha dalam.
***
Memasuki kantor kelurahan, Ki Broto mendatangi Lurah Ngarso yang berwajah masam dan murka. Wajah seorang lelaki tua yang menampakkan ketidakpuasan dan kesinisan terhadap siapa pun yang dihadapinya—kecuali seseorang yang mendatangkan keuntungan baginya. Ia bertahan dengan kesinisan itu untuk menaklukkan orang-orang yang dihadapinya.
“Mari, kita cari dua orang penggergaji yang jatuh ke jurang!” ajak Ki Broto.
“Itu bukan kewajibanku. Dia bekerja untuk bos penambang pasir.”
“Bukankah mereka itu wargamu? Juga nasib Seto, apa dia selamat?”
“Dia sudah menerima bayaran dariku. Aku tak mau peduli lagi nasibnya.”
Memandangi Lurah Ngarso sambil tersenyum, Ki Broto merendahkan nada pembicaraannya. “Kalau begitu, izinkan aku mencari mereka ke hutan.”
“Pergilah, kalau memang itu maumu. Jangan libatkan aku.”
Dengan diikuti beberapa orang desa, Ki Broto memasuki ladang-ladang dan hutan tempat kedua penggergaji itu terperosok terguling ke dalam jurang. Memang tak dapat dilacak bekas tubuh mereka yang kemarin bergulingan meluncur ke dasar jurang, menghindarkan diri dari serangan lebah. Tapi K i Broto masih menandai lereng tempat kedua penggergaji itu meluncur ke jurang.
***