Martil Pamungkas

“Itu kakekmu,” katamu sambil menunjuk sebuah potret lelaki tua menggunakan baju safari berdiri di depan sebuah helikopter. Potret hitam putih dengan sudut gambar yang sudah memudar. “Kata kakekmu, foto ini diambil ketika pemerintah mengadakan program pameran alutsista di lapangan kecamatan, masyarakat kecil seperti kakek merasa senang sebab menjadi hiburan tersendiri, makanya kakekmu sengaja memakai baju paling bagus. Dan ikut berfoto di depan helikopter yang dipamerkan.” Kau tampak bersemangat menceritakan sosok di foto itu.

Pada halaman kedua album tersebut, aku tak berani bertanya apa-apa, aku hanya diam melihat foto dua anak yang wajahnya tampak mirip, sepertinya anak kembar, atau kakak beradik yang usianya tidak berjauhan. Kedua anak itu duduk di tepi kolam, tampak habis berenang. Yang satu sedang tersenyum sambil mengangkat tangannya, sementara anak yang satu lagi tampak dingin dengan sorot mata kosong.

“Ini bapak,” katamu sambil menunjuk ke arah anak yang bermata kosong. Aku mengangguk pelan, tanpa memberikan tanggapan lebih. Kemudian tanganmu mengelus wajah anak yang sedang tersenyum pada potret usang itu. “Ini saudara kembar bapak” ungkapmu dengan bibir gemetar. Semenjak itu, aku tahu bahwa bapak mempunyai saudara kembar.

Kepergian Ibu

Pernah suatu ketika aku bertanya soal ibu kepadamu, namun tamparanmu kala itu seakan mengunci mulutku hingga saat ini. Semenjak itu, pikiran tentang ibu seolah-olah lenyap, aku seakan tak peduli tentang ibu. Matamu yang memerah ketika pertanyaan itu aku lontarkan, seakan menyiratkan pesan amarah yang sangat dalam.

Beberapa hari sebelum aku melemparkan pertanyaan tentang ibu, tanpa sengaja aku menemukan berkas-berkas tua di dalam laci lemari gudang. Entah berkas apa, namun di sana tedapat nama ibu, nama kamu, serta nama yang hampir mirip denganmu, mungkin itu saudara kembarmu. Nama kakek serta nama nenek yang menurut cerita dari suadara meninggal karena bocor jantung.

“Jangan tanya-tanya lagi soal ibumu, dia sudah mati bersama kekasihnya yang lebih dulu mati.” Entah apa yang kau ungkapkan, pada saat itu aku belum mengerti dan sampai sekarang sama sekali tidak ingin mengerti. Sejak saat itu ketika ada teman atau tetangga yang bertanya soal ibu, aku selalu bilang bahwa ibuku adalah sebuah martil yang selalu disayangi bapak. Ibuku adalah sebuah benda tumpul yang selalu dimandikan setiap malam bulan purnama.

Arsip Cerpen di Indonesia