Martil Pamungkas

Rahasia

Memasuki kamar rahasia itu adalah tindakan yang paling diharamkan, tak ada seorang pun yang boleh memasukinya termasuk aku, anakmu. Aku paham betul apa yang akan terjadi jika peraturan itu dilanggar. Entah apa yang ada di dalam kamar rahasia itu, aku sama sekali tidak bisa menerkanerka. Setiap hari kamar itu terkunci rapat, hanya kamu yang mampu membuka kunci tersebut, bahkan apabila kamu keluar kota untuk urusan pekerjaan, kamar rahasia itu sampai dikunci ganda.

Namun berbeda dengan malam itu, kamu tiba-tiba meninggalkan kamar dengan tergesa, pintunya dibiarkan terbuka. Tampak isi kamar sangat berantakan, lampu kamar berwarna hijau menambah angker suasana di dalamnya, wewangian aneh menyeruak ke luar kamar. Beberapa koran tampak tercecer di lantai bersama bunga-bungan yang sudah mengering kecoklatan. Entah apa yang biasa kamu lakukan di dalam kamar rahasia tersebut.

Aku beranjak memasuki kamar rahasia tersebut, pada dinding kamar tampak terpasang foto-foto usang, ada foto seorang kakek yang sedang memecah batu, ada foto seorang ibu tua yang sedang duduk di dalam tenda, ada juga foto sepasang anak kembar yang berpose di antara batu-batu. Pada dinding bagian lain ada foto pernikahan kamu dengan ibu, foto aku ketika masih bayi dan foto lain yang tidak kukenali.

Namun yang paling menggetarkan dada adalah ketika aku membaca headline korankoran yang tercecer di lantai, tampak dari titi mangsanya adalah koran lama yang terbit jauh sebelum aku dilahirkan.  Ada yang berjudul “Seorang Pemuda Dibunuh Saat Gerhana Matahari”. Kemudian di halaman koran yang lain ada berita utama dengan judul “Sadis, Pelaku Menggunakan Martil untuk Membunuh”.

Namun yang membuat hati ini lebih ngilu adalah ketika membaca headline surat kabar yang bertitimangsa jauh dengan koran sebelumnya namun masih berkaitan. “Terungkap, Pelaku Pembunuhan Menggunakan Martil adalah Saudara Kembar Korban. Motif Pembunuhan adalah Karena Cemburu”. Hati menolak untuk percaya namun berita pada surat kabar tersebut sudah menjadi bukti lembaran kelam hidupmu. Kau telah membunuh  saudara kembarmu sendiri.

Arsip Cerpen di Indonesia