Perempuan yang Hendak Menyatakan Cinta

Mati-matian dia melupakan perasaannya. Namun, perasaan yang telanjur tertanam itu bagai virus yang menyebar begitu cepat. Tidak bisa hilang bagaimanapun dia berusaha untuk melupa. Mungkin akan lebih baik baginya untuk menyatakan perasaannya. Aku mencintaimu. Cukup dua kata itu, tapi dia tidak punya keberanian seperti pendahulunya; hanya kebisuan yang bisa dia tawarkan pada lelaki pujaannya.

Hari ini dia harus membawa kucing piaraannya ke klinik dan itu sudah cukup sebagai alasan baginya untuk bertemu dengan lelaki pujaannya. Dia harus mempunyai sebuah alasan, bahkan untuk sekadar bertemu karena dia tidak punya keberanian seperti yang dimiliki ibu ataupun kakaknya untuk mendekati lelaki pilihan mereka. Semalaman, dia telah meramu keberanian yang diwariskan secara genetik dari keluarganya. Tak lupa pula dia menyusun narasi untuk sekadar mewakili perasaannya.

Keberanian yang harusnya telah mendarah daging itu bagai teracuni dan hilang, sedangkan narasi yang telah dia pelajari selama mengenyam pendidikan sastra tiba-tiba membebal ketika dia berhadapan dengan lelaki pujaannya. Yang bisa dilakukan hanyalah meremas buku-buku jarinya untuk mengatasi kegugupan. Jantungnya bagaimana berpacu dan dia sampai takut jika lelaki di hadapannya itu dapat mendengar degup jantungnya yang sudah seperti genderang.

Sadarkan dirimu! Kau harus bersikap normal, makinya dalam hati.

“Kucingmu mengalami gangguan pencernaan. Sepertinya dia salah makan. Kau harus lebih memperhatikan makanannya,” ucap lelaki itu setelah memeriksa kucing piaraannya yang tiga hari ini terlihat lesu.

“Oh, begitu.” Sekali lagi perempuan itu mengutuki diri sendiri atas ucapan yang barusan saja dia katakan. Harusnya dia menjawab lebih panjang lagi agar punya bahan untuk berbincang dengan lelaki di hadapannya.

Dia memeras otak, mengingat narasi yang telah dia siapkan semalam, tapi tak ada yang tersisa. Dia tidak pernah sebodoh ini di sekolah. Kini perempuan itu mulai berpikir mungkin saja dia bukan anak kandung dari keluarganya. Mungkin saja dia hanya anak pungut karena tidak punya keberanian seperti ibu dan kakakknya.

“Untuk tiga hari ke depan jangan dimandikan dulu, ya. Dan juga jangan lupa minggu depan jadwal vaksinisasi.”

Agak tersentak dia mendengar ucapan lelaki pujaannya. Itu artinya minggu depan mereka akan bertemu lagi dan itu artinya seminggu ini dia harus mengumpulkan keberanian juga narasi cinta untuk disampaikan pada lelaki pujaannya. Dia tidak ingin terlihat bodoh lagi seperti hari ini. Setidaknya dia harus membuat lelaki pujaannya mengetahui perasaannya agar lelaki pujaannya mengerti arti gugupnya selama ini, agar lelaki pujaannya itu tahu betapa gundah hatinya selama ini menanggung rindu.

Arsip Cerpen di Indonesia