Perempuan yang Hendak Menyatakan Cinta

Dalam benaknya, kini dia hanya memikirkan cara untuk mengumpulkan keberanian. Dibacanya buku-buku tentang cinta; bait-bait puisi yang menggugah hatinya. Namun, dia tidak yakin itu akan berhasil. Dia berpikir, apakah semua cinta harus diungkapkan? Dan apakah cinta seperti miliknya ini pantas untuk disampaikan?

“Setidaknya menyatakan perasaan bisa membuatmu lega,” kata seorang teman.

Ini tidak sesederhana yang mereka bayangkan, katanya. Dia semakin frustrasi pada cinta di hatinya. Setiap malam dia merasaan sesak tak tertahankan di dada. Debar jantungnya seolah-olah akan meledakkan dirinya menjadi serpihan. Jatuh cinta tak pernah semenyesakkan ini. Tak ada jalan lain, dia harus menyatakan perasaannya apa pun risiko yang akan ditanggung setelahnya.

Apa kira-kira yang membuat seorang lelaki menaruh hati pada seorang perempuan? Apa kiranya yang membuat Ayah yakin bahwa Ibu ialah jodohnya? Dan apa yang membuat kakak iparnya yakin untuk menerima pernyataan cinta kakaknya?

“Ayah harap Tuhan sedikit bermurah hati dengan memperlihat benang merah di jari kelingking kita yang terhubung dengan jodoh yang telah Dia siapkan. Tapi tidak ada yang seperti itu dan ibumu datang dengan sebuah hati yang penuh dengan cinta untuk Ayah.”

Perempuan itu berharap mempunyai kisah cinta seperti orangtuanya. Mereka bertemu di waktu yang tepat, dengan keberanian Ibu menyatakan cinta, kemudian menikah dan bahagia hingga kini. Perempuan itu yakin jika suatu hari nanti kedua orangtuanya meninggal karena usia, keduanya akan bertemu kembali di surga.

“Ayah, apakah ada yang namanya cinta yang salah?”

“Kenapa bertanya seperti itu? Apakah kau tidak percaya pada cintamu sendiri?”

“Aku hanya sangat takut.”

“Nyatakan perasaanmu, seperti ibu dan kakakmu. Bukan cinta namanya jika hanya dipendam dan tak pernah tersampaikan.”

Bersama kucing berbulu putih yang harus divaksinisasi, perempuan itu datang ke klinik lelaki pujaannya. Dengan segenggam keberanian, sebait narasi yang telah dia siapkan, dan nasihat ayahnya, dia siap untuk menyatakan cinta. Terus dia dengungkan ucapan ayahnya semalam: bukan cinta namanya jika hanya dipendam dan tak pernah tersampaikan.

Kegugupan seketika menyeretnya ketika melihat binar mata lelaki pujaannya. Senyum lembut yang telah meluluh hatinya itu mengobrak-abrik keberanian yang telah dia kumpulkan. Nyaris saja dia melangkah pergi dan menjadi pecundang jika dia tak mengingat-ingat nasihat sang ayah.

Arsip Cerpen di Indonesia