Perempuan yang Hendak Menyatakan Cinta

“Kau jadi agak pendiam akhir-akhir ini. Apa kau sedang ada masalah?” Ingin sekali perempuan itu berkata bahwa masalah ada pada lelaki di hadapannya. Lelaki yang telah mencuri hatinya dengan paksa, membuatnya memuja, dan lupa segalanya. Salah lelaki itu begitu perhatian padanya hingga dia mengartikannya sebagai sesuatu yang lain dan jatuh cinta pada hati yang tak semestinya. Salah lelaki itu membuatnya menangis tiap malam karena menahan rindu. Ingin dia ucapkan semua itu, tapi dia tak berani. Yang bisa dia lakukan hanya menggelang pelan.

“Kakakmu cerita, katanya kau sedang jatuh cinta pada seorang lelaki?” Lagilagi, lelaki itu senyum begitu lembut. “Aku harap kau punya keberanian seperti kakakmu untuk menyatakan cinta pada lelaki pujaanmu itu.”

Kali ini tangan perempuan itu mengepal keras, jantung berdetak begitu keras membuatnya sesak napas, dan bau cairan antiseptik membuatnya sedikit limbung. Apakah ini saatnya?

Batin perempuan itu.

“Aku bersyukur bertemu dengan kakakmu.” Satu kalimat itu seperti menyeretnya ke kenyataan; membuat telinganya berdengung seperti dilewati sederet gerbong kereta yang melaju begitu cepat. Ini merupakan kenyataan yang selama coba dia abaikan.

“Aku harus pulang lebih awal. Hari ini ulang tahun pertama pernikahan kami. Aku sudah menyiapkan hadiah istimewa untuk kakakmu.”

Perempuan itu ingat ketika kakaknya berkata bahwa dua orang yang berjodoh memiliki wajah yang mirip. Perempuan itu tahu dia memiliki kemiripan dengan lelaki di hadapannya ini, tapi lelaki itu lebih mirip dengan kakaknya karena mereka berdua adalah suami istri.

“Kalaupun aku mempunyai keberanian untuk menyatakan cinta padanya, ini tidak akan pernah berhasil karena aku jatuh cinta pada sebuah hati yang tak seharusnya.” (M-2)

Arsip Cerpen di Indonesia