Satu persatu Haji Zulkarnain lihat wajah orang-orang dengan bibir menyungging senyum. Reaksi bermacam-macam ditunjukkan oleh mereka ketika Haji Zulkarnain mulai mendendangkan salawat. Memang terasa aneh ada lantunan salawat di tempat yang semestinya diputar musik-musik pembangkit gairah.
Haji Zulkarnain mengajak seluruh pengunjung tempat hiburan tersebut mengikutinya bersalawat. Setelah acara selesai, Haji Haji Zulkarnain pasti memberikan selembar sorbannya itu pada salah satu perempuan di tempat itu, dan siapapun yang menerimanya maka sangat dimungkinkan ia tak akan pernah kembali ke tempat hiburan malam tersebut.
Mulut Haji Zulkarnain senantiasa gemetar membaca salawat. Jatuh bulir-bulir air matanya, membasahai pipi tirusnya. Ia tidak pernah menghakimi para perempuan penghibur yang duduk mendengar ceramahnya. Haji Zulkarnain kerap mengatakan pada mereka bahwa setiap orang berhak atas surga. Tak seorang pun, kata Haji Zulkarnain, tahu akan ditempatkan dimana kelak, apakah di surga atau di neraka.
“Mungkin saya di neraka dan kalian bisa di surga. Surga dan neraka itu bukan urusan saya. Itu urusan Allah.”
Karena itulah Haji Zulkarnain diterima dengan tangan terbuka di tempat hiburan tersebut. Ia sama sekali tidak pernah melukai perasaan orang-orang dengan mengancam-ancam mereka akan siksaan neraka. Kedatangan Haji Zulkarnain ke sana bukan sebagai seorang hakim, apalagi sebagai Tuhan yang bisa memutuskan surga dan nerakanya seseorang.
Cahaya lampu mengerjap-ngerjap, berputar-putar dengan warna berubah-ubah. Haji Zulkarnain turun dari atas panggung, kemudian ia duduk bersama dalam satu meja, ngobrol hal-hal sepele. Haji Zulkarnain meletakkan sorbannya di bahu sebelah kanan. Ia bercerita masa lalunya yang juga kelam hingga akhirnya ia bisa sampai di Tanah Suci dan menjadi tokoh masyarakat seperti saat ini.
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Haji Zulkarnain selalu mampu menyiram bara dalam dada mereka. Sungguh mereka mengagumi Haji Zulkarnain. Sejuk mendengar suara Haji Zulkarnain. Tak sedikit pun mereka merasa terluka oleh kata-katanya. Haji Zulkarnain sangat hati-hati bertutur, diucapkannya dengan nada lembut dan halus.
Karena itulah sebagian dari mereka terbuka mata hatinya. Sadar sesadar-sadarnya kalau hidup hanyalah jembatan menuju kematian. Para penghibur malam itu memiliki ragam alasan yang diungkapkan pada Haji Zulkarnain. Mereka menjelaskan sambil berurai air mata. Haji Zulkarnain menabahkan hati mereka.