Sorban di Leher Perempuan Malam

Haji Zulkarnain dikenal sebagai satu-satunya orang yang menyalakan lilin di tempat gelap, sebuah usaha yang tak dilakukan oleh orang lain. Haji Zulkarnain membawa cahaya bulan ke tempat hiburan, berharap sinarnya sanggup menerangi sudut-sudut gelap yang digunakan perempuan penghibur menerima pelanggannya.

***

Pada saat gelap membungkus langit. Haji Zulkarnain melangkah dilatari sinar bulan purnama, pelan-pelan berjalan ditemani Sarudin. Gerimis jatuh menerpa tubuh mereka berdua yang terus bergerak menuju tempat hiburan. Dingin. Menggigilkan. Tapi Haji Zulkarnain tak peduli.

Seorang perempuan muda mengikuti Haji Zulkarnain. Dalam pandangan Haji Zulkarnain, tidak jelas wajah perempuan itu. Terlihat samar-samar. Haji Zulkarnain berhenti. Perempuan muda itu semakin mendekat. Kecantikannya bersinar di wajahnya. Ia membawa tangis dari rumah kontrakannya. Haji Zulkarnain menarik napas. Perempuan itu menuturkan lika-liku hidupnya sebagai perempuan penghibur.

Ia sengaja menghambat perjalan Haji Zulkarnain semata-mata untuk memohon agar sorban itu diberikan kepadanya.  Perempuan muda itu mengatakan, telah lama sekali ia mengikuti setiap pengajian yang digelar Haji Zulkarnain. Ia menginginkan sorban itu. Haji Zulkarnain memberikannya. Dikalungkanlah sorban tersebut di leher perempuan muda itu. Ia tersenyum dan mendadak merangkul tubuh Haji Zulkarnain.

Belum sempat perempuan itu melepaskan pelukan, tanpa terduga seseorang melihat adegan tersebut. Orang itu adalah kawan karib Haji Zulkarnain. Ia bernama Sutomo, yang kebetulan lewat di jalan tersebut. Sutomo memandang Haji Zulkarnain dengan cahaya mata yang sinis, cahaya mata yang merendahkan.

“Rupanya kau gunakan sorban untuk memikat perempuan sundal,” kata Sutomo sambil meludah jijik dan langsung pergi.

Sarudin yang sakit hati melihat Haji Zulkarnain dilecehkan. Sarudin yang pernah menjadi preman hendak mengejar Sutomo dan berniat menghajarnya. Haji Zulkarnain melarang Sarudin dengan gelengan kepala.

“Allah lebih tahu apa yang sesungguhnya barusan terjadi. Biarlah dia berkata apapun.” Haji Zulkarnain menenteramkan emosi Sarudin. Mantan preman itu pun diam dan semakin mengagumi kepribadian Haji Zulkarnain.

Arsip Cerpen di Indonesia