“Siapa yang beruntung menerima sorban itu malam ini?” Preman penjaga tempat hiburan itu bertanya pada Haji Zulkarnain yang sedang mengelus-elus sorbannya.
“Dia akan datang sendiri pada saya.” Preman itu kaget. Orang-orang melihat ke arah Haji Zulkarnain.
Sesaat kemudian, Marena, seorang perempuan penghibur di diskotik itu tiba-tiba datang menghampiri Haji Zulkarnain. Perempuan berambut hitam panjang terurai sebahu itu meminta sorban milik Haji Zulkarnain. Ia menangis tersedu-sedu, basah oleh air mata wajah cantiknya. Haji Zulkarnain mengalungkan sorban tersebut di leher Marena. Perempuan itu mengucap terimakasih dan bergegas pulang meninggalkan diskotik.
Ada banyak perempuan yang menerima sorban dari Haji Zulkarnain. Setelah menerimanya, tak satu pun diantara mereka yang kembali bekerja sebagai perempuan penghibur di diskotik tersebut. Itu juga yang terjadi dengan Marena, ia dikabarkan pulang kampung, membuka warung nasi uduk di teras rumahnya. Terakhir Marena dikabarkan akan segera menikah dengan lelaki pilihannya sendiri.
Preman bernama Sarudin yang semula bekerja di diskotik itu akhirnya mengihklaskan diri menjadi pengawal Haji Zulkarnain. Ia selalu mendampingi kemana Haji Zulkarnain memberikan pengajian. Sarudin rela tak dibayar asal bisa selalu bersama Haji Zulkarnain. Sarudin menemukan ketenangan hati bila selalu berdekatan dengan Haji Zulkarnain.
Haji Zulkarnain mengerti bagaimana Sarudin harus menafkahi anak istrinya di rumah. Haji Zulkarnain memberikan pekerjaan pada Sarudin, ia dipercaya mengelola toko sembako milik Haji Zulkarnain di pasar Tangkel. Sarudin mengakui pendapatannya tak sebanyak seperti saat menjadi penjaga diskotik. Meskipun begitu, Sarudin tidak pernah kekurangan memberi makan anak istrinya.
Kegiatan Haji Zulkarnain yang kerap bersalawat di tempat-tempat hiburan tak sepenuhnya direspon gembira oleh orang-orang, termasuk kawan-kawan Haji Zulkarnain sendiri. Telinga Haji Zulkarnain selalu mendengar ledekan, cibiran bahkan hinaan dan cacian menusuknya terus menerus.
“Salawat itu di tempat suci bukan di tempat kotor.”
“Mungkin saja dia juga pelanggan di tempat hiburan itu.”
Menanggapi ocehan orang-orang yang tak suka dengan tindakannya, Haji Zulkarnain memilih diam. Mengunci mulutnya rapat-rapat. Haji Zulkarnain beranggapan, orang-orang mencemoohnya karena mereka belum tahu kejadian yang sesungguhnya. Haji Zulkarnain membiarkan saja desas-desus soal dirinya itu berkembang dari mulut ke mulut, dari waktu ke waktu.