Banjir yang Dikirim ke Campoan

Kepala desa itu mengatakan, itu semata-mata membantu pemerintah kabupaten untuk mempromosikan wisata di kabupaten tersebut.  Beberapa sawah warga Campoan harus dijual supaya pembangunan berjalan lancar. Mereka tidak menolak keinginan yang disampaikan kepala desa. Apalagi sawah mereka dibeli dengan harga yang tak pernah mereka sangka. Harganya berlipat-lipat dari harga tanah biasanya.

Sapraji menjadi satu-satunya orang yang menolak bujukan kepala desa untuk menjual tanahnya. Berkali-kali kepala desa Campoan membujuk Sapraji agar tanah miliknya dilepas, sebab tanah tersebut mengganggu jalannya pembangunan bandara. Tapi berkali-kali pula Sapraji menolak permintaan itu. Teguh pendirian Sapraji yang mengatakan sampai nyawa sekalipun taruhannya tak akan pernah dijual tanah yang ia dapatkan dari warisan kakeknya tersebut.

“Apa jadinya kalau saya jual tanah itu. Apa yang saya akan wariskan pada anak cucu kelak. Menjaga tanah sama artinya menjaga anak cucu. Lagi pula, apa anda tidak cemas banjir akan menyergap desa kita?”

“Percayalah. Tidak akan banjir.” Kepala desa itu berusaha meyakinkan Sapraji.

Sapraji tersenyum sinis. “Jangan mendahului keputusan Tuhan.”

Sejak saat itu kepala desa Campoan itu tak pernah lagi menemui Sapraji. Ia hilang begitu saja. Tak terdengar kabar tentang kepala desa itu. Akan tetapi, Sapraji dibuat kaget saat mendengar kabar bahwa sawahnya sudah ikut digusur tanpa izin darinya. Bulldozer itu menghabisi semua tanaman padi milik Sapraji, tanpa rasa ampun.

Tempurung kepala Sapraji seakan mau meledak. Kepala desa itu sudah benar-benar membuatnya marah. Ia tahu betul watak kepala desa itu. Pastilah kepala desa itu yang mengizinkan, mengatakan bahwa pemilik sawah itu sudah mau menjual tanahnya. Ingin sekali Sapraji menemui kepala desa untuk menanyakan kebenaran itu.

Sapraji mengurungkan niat itu. Ia memilih menabahkan diri. Percuma saja Sapraji melawan kepala desa itu. Ia hanya seorang diri. Tak punya kekuasaan. Tak akan menang melawan kepala desa itu, terlebih kepala desa itu adalah perpanjangan tangan pemerintah kabupaten. Tak ada daya orang miskin macam Sapraji melawannya. Laki-laki itu pasrah. Air matanya berurai terus menerus.

“Banjir itu datang, karena kita sendiri yang memintanya.” Sapraji bergumam.

Kejadian sekian tahun lalu itu masih menghuni benaknya yang sempit. Maimunah melihat Sapraji yang sejak tadi melamum. Ia melihat rasa kesal melingkar di wajah suaminya itu. Gigi Sapraji bergemeretak. Tangannya berkali-kali memukul meja. Untung saja, gelas kopi yang tinggal ampasnya tak jatuh ke bawah.

Arsip Cerpen di Indonesia