Tanpa perlu menunggu jawaban dari mulut kepala desa itu. Sapraji pamit. Tergesa-gesa ia meninggalkan rumah kepala desa. Ia merasa jiwanya terancam sebab telinga Sapraji mendengar desis ular, auman macan, suara buaya dan kadal yang seperti akan membunuhnya. Berada di depan pintu pagar kepala desa itu, Sapraji sempat menghentikan langkahnya saat melihat dua mobil mewah masuk ke halaman rumah kepala desa.
Secara spontan mulut Sapraji mengucap istighfar seraya memegang degup jantung di dadanya setelah melihat penumpang di dalam mobil itu adalah segerombolan binatang buas. Matanya sempat melihat seekor tikus besar, buaya, kadal, kalajengking dan berbagai binatang lainnya yang sangat mengerikan.
Pulau Garam, Maret 2019
Zainul Muttaqin Lahir di Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media lokal dan nasional. Meraih Juara II Lomba Cerpen Se-Nusantara (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Kabupaten Sumenep, Desember 2017). Buku kumpulan cerpen perdananya; Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, Januari 2019). Tinggal di Sumenep Madura. Email; lelakipulaugaram@gmail.com