“Kamu ingat kejadian dengan kepala desa?” Istrinya bertanya. Sapraji mengangguk.
“Inilah akibatnya sekarang.”
“Kita berdoa saja, semoga tak akan ada banjir lagi setelah ini.”
“Mustahil.”
“Kenapa?”
“Doa saja tak cukup.”
“Lalu?”
Sapraji tak menemukan jawaban. Pening kepalanya. Ia masuk ke dalam, meninggalkan istrinya sendiri dan membiarkan perempuan paruh baya itu menelan pertanyaannya sendiri. Maimunah mengerti kekesalan yang dialami suaminya.
Beberapa menit kemudian, Sapraji keluar rumah. Istrinya melihat Sapraji tergesa-gesa, menyibak air banjir yang tingginya hampir selutut orang dewasa. Maimunah memanggil suaminya dari belakang. Sapraji menoleh. Perempuan berjilbab biru tua itu menghampiri Sapraji.
“Mau kemana?”
“Rumah kepala desa.”
“Untuk apa?”
“Saya mau dia bertanggung jawab. Dia yang membuat desa kita direndam banjir.”
“Apa perlu?”
“Sangat perlu.”
Maimunah tak bisa menahan keinginan suaminya pergi ke rumah kepala desa yang terletak di ujung jalan. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke rumah berupa bangunan mewah itu. Sapraji mengucap salam di depan pintu pagar. Seseorang membukanya terburu-buru. Rupanya, banjir juga ikut merendam rumah orang nomor satu di desa Campoan.
Menunggu di ruang tamu selama hampir tiga puluh menit, Sapraji was-was kepala desa tak akan menemui dirinya. Seorang pembantu rumah tangga memberinya secangkir kopi dan mempersilakan Sapraji meminumnya. Ia juga mengatakan kepada Sapraji jika kepala desa sedang ada tamu dari kabupaten dan beberapa orang penting lainnya.